Kumpulan Skripsi & Artikel Jurnal Ilmiah

2009

Exporting ginger to Japan

Filed under: Uncategorized — Tags: , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : MARIANNE, EVELINE

Actually Indonesia has supported nature condition moreover with the numerous of labor, Indonesia should can compete with another country. However, the large number of workers is not followed with the high skills. Almost all the local farmers are less educated. Furthermore, the unstable economic and political condition make even worse. It will difficult t o meet the quality and the requirements that asked by Japanese market, Besides that Indonesia should be careful with the high competition market. In analyzing data for this Final Assignment Report, the writer mostly uses secondary data. T hrough this analyzing the writer identify the importance of quality control, from the plantation to the shipment. This process will determine the quality of the products. For entering the Japanese market, an exporter or producer will be better having quality assurance certificates, like IS0 or HACCP. Japan is very restricted on the imported food. Japanese are very care on the sanitation and health. So, PT. Java Agritech should have those certificates in order to guarantee its product quality and safety. Through applying quality assurance certificate, PT. Java Agritech can guarantee the product, because all of the processing points can be controlled.

Keyword : indonesia ginger, export to japan, quality control

Sumber : http://repository.petra.ac.id/1672/

Analisa biaya kualitas di PT. Tumbuh Jaya Mandiri

Author : TEDJA, ANDREAS

PT Tumbuh Jaya Mandiri memiliki permasalahan ingin meningkatkan laba perusahaan supaya dapat bersaing dengan perusahaan sejenis. Tujuan dari tugas akhir ini adalah membantu menghitung dan menganalisa biaya kualitas yang terjadi di PT Tumbuh Jaya Mandiri kemudian mencari biaya yang terbesar dan memberi usulan perbaikan untuk meningkatkan laba perusahaan. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa komponen biaya kualitas terbesar disebabkan oleh biaya kegagalan internal yaitu sebesar 52% dari total biaya kualitas. Sebagian besar penyebab kegagalan internal adalah karena faktor manusia, oleh karena itu usulan yang diberikan berhubungan dengan manusia, salah satunya yaitu pemberian bonus. Pemberian insentif bonus ini dapat menghemat pengeluaran biaya produksi sebesar Rp. 346.363,77 setiap periodenya.

Keyword : quality control, management, prevention costs, appraisal costs, internal failure costs, external failure costs, percentage of quality costs relative to sales, analysis of quality costs, quality improvements and costs reduction, cost minimisation

Sumber : http://repository.petra.ac.id/2846/

Penurunan prosentase cacat produk di PT.X

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : GUNAWAN, HENKY

PT X adalah perusahaan yang memproduksi spring bed yang terdiri dari tiga bagian yaitu sandaran, divan dan kasur. Selama ini prosentase cacat yang terjadi pada ketiga produk tersebut masih cukup tinggi. Hal ini disebabkan tidak diketahui secara pasti faktor-faktor penyebab cacat yang terjadi karena perusahaan belum mempunyai metode pengendalian kualitas yang baik Dengan adanya masalah tersebut diperlukan usaha pengendalian kualitas dengan menggunakan suatu metode yang cocok. Untuk mengendalikan jumlah cacat yang terjadi dilakukan dengan menggunakan alat-alat kualitas, seperti diagram Pareto untuk menentukan prioritas jenis cacat yang akan dikendalikan, peta kendali, pembuatan diagram sebab-akibat masing-masing jenis cacat untuk merancang perbaikan yang akan dilaksanakan. Hasil rancangan perbaikan kemudian diimplementasikan. Karakteristik cacat yang terjadi yaitu karakteristik cacat atribut untuk semua jenis cacat pada setiap produk yang diamati. Dari hasil analisis awal didapatkan bahwa peta kontrol p untuk jenis cacat ukuran kasur tidak standar (A1), cacat ukuran divan tidak standar (B 2), dan cacat sandaran melengkung (C1) sudah dalam keadaan terkendali. Pada peta kontrol u untuk jenis cacat kasur bergelombang (A2), cacat kasur gembos (A 3), cacat divan menjamur (B 1) dan cacat kain cover sandaran berkerut (C2) juga sudah dalam keadaan terkendali. Setelah dilakukan usaha perbaikan (implementasi) sesuai dengan usulan perbaikan yang dirancang, dari analisis hasil yang diperoleh menunjukkan adanya penurunan prosentase cacat pada produk kasur, divan full per, dan sandaran. Untuk produk kasur dengan jenis cacat ukuran kasur tidak standar yaitu dari 23% menjadi 10%, cacat kasur bergelombang yaitu dari 34% menjadi 13%, dan cacat kasur gembos yaitu dari 35% menjadi 15%. Untuk produk divan full per dengan jenis cacat divan menjamur yaitu dari 28% menjadi 4% dan cacat ukuran divan tidak standar yaitu dari 28% menjadi 9%. Sedangkan untuk produk sandaran dengan jenis cacat sandaran melengkung yaitu dari 19% menjadi 3% dan cacat kain cover sandaran berkerut yaitu dari 19% menjadi 6%. Jadi dapat disimpulkan bahwa hasil dari implementasi perbaikan yang dilakukan untuk memperbaiki kualitas proses produksi spring bed dapat dikatakan cukup berhasil, dimana prosentase cacat yang tinggi telah dapat diturunkan.

Keyword : decreasing, defect percentage, quality tools, quality control, management

Sumber : http://repository.petra.ac.id/2937/

Analisa quality control di PT Ispatindo – Sidoarjo

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : DARMAWAN, ERIC

Perkembangan teknologi industri manufaktur di Indonesia terus menunjukkan perkembangan yang pesat, demikian pula yang dilakukan oleh PT Ispatindo – Sidoarjo sebagai perusahaan manufaktur baja ( pengecoran dan wire drawing ) yang terus mengembangkan teknologi proses mulai dari melting process, moulding billet, billet drawing sampai dengan quality control terhadap wire rod.Dalam pelaksanaan Tugas Akhir yang dilaksanakan di PT Ispatindo – Sidoarjo meliputi studi literatur proses produksi, quality control inspection pada setiap section serta observasi di lapangan. Dalam pengamatan di lapangan dipelajari proses produksi mengenai cara-cara proses membuat wire rod mulai dari bahan baku berbentuk besi tua, baja cair, billet hingga menjadi wire rod. Sedangkan dalam quality control dipelajari proses quality inspection pada heat number di setiap section QC dengan berpedoman pada company JIS standard.

Keyword : melting process, moulding billet, billet drawing, wire rod, quality control, heat number, JIS standard

Sumber : http://repository.petra.ac.id/1730/

Persiapan iso 9001:2000 di Pelangi Kristus

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : GUNAWAN, CIENNY

Pelangi Kristus merupakan sebuah sekolah Kristen yang berbasiskan Alkitab. Pelangi Kristus merupakan salah satu instansi yang mempersiapkan sumber daya manusia yang bermutu. Oleh karena itu Pelangi Kristus harus memulai dengan membenahi sistem manajemennya menjadi sistem manajemen yang bermutu. Persyaratan untuk sistem manajemen mutu terdapat dalam ISO 9001:2000. Perancangan sistem manajemen mutu di Pelangi Kristus dimulai dengan scanning awal, merancang quality manual, merancang prosedur mutu beserta formulir yang akan digunakan dan merancang standar procedure operational beserta formulir yang akan digunakan. Setelah itu akan dilakukan scanning akhir. Setelah perancangan, ketidaksesuaian berkurang sebesar 19.13%.

Keyword : otal quality management, quality control, quality management system, design

Sumber : http://repository.petra.ac.id/2847/

Meminimalkan loss emas di U.D. ‘X’

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : , ERIC

U.D `X? yang bergerak di bidang kemasan ingin melakukan penelitian terhadap jumlah loss emas yang tidak stabil dan juga menata layout nya. Kemudia dilakuakn perancangan diagram sebab akibat dan yang dapat menyebabkan jumlah loss yang besar adalah karena dari operator, material dan prosedur kerja. Kemudian dilakukan penelitian – penelitian pada proses produksi yang diperkirakan mengalami jumlah loss yang besar, pada gelang setengah jadi dengan cara memberi oli dan membakar plat, sedangkan pada cincin setengah jadi dengan oven dan larutan HCl. Hasilnya pada gelang setengah jadi lossnya dapat ditekan, sedangkan pada cincin belum bisa ditekan lossnya. Kemudian adanya korelasi antara kadar dengan prosentase loss, jika kadarnya semakin tinggi maka prosentase lossnya kecil. Dari segi layout dapat meningkatkan produktivitas kerja, menurut wawancara dengan pemilik pabrik.

Keyword : causal diagram, correlation, quality control, production management

Sumber : http://repository.petra.ac.id/2939/

Peningkatan kualitas melalui implementasi filosofi six sigma di CV. X

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , , , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : ANITASARI;, SUSAN

Tingkat Siqma Quality Level (SQL) perusahaan saat ini umumnya berada pada level 3-4s. Tingkat mutu kelas dunia menghendaki level kualitas 6s. Peningkatan level kualitas ke arah 6s di CV. X dilakukan dengan terlebih dahulu mengetahui karakteristik kualitas kritis (CTQ) konsumen terhadap produk speaker, melalui quality function deployment. CTQ ini diperbaiki dengan meminimalkan kecacatan tertinggi yang terkait, yang dicari dengan bantuan pareto diagram. Usaha perbaikan dilakukan terhadap faktor penyebab dominan yang dinyatakan dalam fishbone diagram. Indikator keberhasilan yang dipakai antara lain DPMO, SQL, Cpk, yield dan analisa biaya kualitas, yang diukur sebelum dan sesudah implementasi perbaikan. Perbandingan indikator keberhasilan menyatakan peningkatan kualitas proses produksi speaker CV. X. Saran yang diberikan, termasuk perbaikan sistem pengendalian kualitas, diharapkan dapat diterapkan untuk meningkatkan level kualitas perusahaan, dimana keinginan dan harapan pelanggan dapat senantiasa dipenuhi sehingga dapat meningkatkan daya saing perusahaan. Proyek peningkatan kualitas harus dijalankan secara kontinu sehingga dapat mencapai level kualitas yang lebih tinggi di waktu mendatang.

Keyword : quality function deployment, ctq, pareto diagram, fishbone diagram, dpmo, sql, cpk, yield, quality costing, quality control

Sumber : http://repository.petra.ac.id/2017/

Pengukuran dan upaya peningkatan kualitas layanan rumah makan Cianjur di Surabaya dengan metode servqual

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : , LINAWATI

Perkembangan bisnis rumah makan yang pesat di Surabaya telah menimbulkan persaingan yang sangat ketat, dimana pelaku bisnis dituntut untuk dapat memberikan yang terbaik bagi konsumen. Pemenuhan harapan konsumen akan mendatangkan kepuasan konsumen dan keuntungan bagi pelaku bisnis. Penelitian ini dilakukan untuk mengukur kepuasan dan harapan konsumen serta kesenjangan (gap) kualitas layanan yang terjadi pada ketiga cabang rumah makan Cianjur di Surabaya dengan menggunakan metode Servqual yang terdiri dari lima dimensi kualitas yaitu tangible, reliability, responsiveness, assurance, dan empathy. Pada ketiga cabang Cianjur di Surabaya terjadi kesenjangan (gap) antara tingkat kepuasan dan tingkat harapan konsumen. Kesenjangan (gap) terjadi pada dimensi tangible dan responsiveness. Kesenjangan (gap) yang terjadi disebabkan karena standar kualitas layanan yang kurang baik dan bersifat informal.

Keyword : restorant, quality control, statistic, consumer?s satisfaction, gaps, servqual method

Sumber : http://repository.petra.ac.id/2848/

Perancangan sistem pengendalian kualitas di PT Satriagraha Sempurna dengan output quality plan

Filed under: Uncategorized — Tags: , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : ADI, PETER

PT Satriagraha Sempurna baru-baru ini memperoleh ISO 9001:2000 mengenai sistem manajemen mutu. Hal yang mendasari perusahaan tersebut untuk mendapatkan ISO 9001:2000 adalah kualitas menjadi dasar kepuasan konsumen dalam memilih produk dan pada saat ini masyarakat semakin kritis di dalam memilih kualitas produk, sehingga mau tidak mau perusahaan harus memperhatikan kualitas mereka agar produk mereka tetap eksis di pasaran dan dapat bersaing dengan perusahaan-perusahaan sejenis. Akan tetapi sistem pengendalian kualitas yang berjalan masih memerlukan peningkatan-peningkatan. Oleh karena itu melalui tugas akhir ini penulis akan menyusun sebuah sistem pengendalian kualitas yang baru yang lebih terstruktur dengan baik dan terperinci dengan output quality plan untuk PT Satriagraha Sempurna. Perancangan ini meliputi penentuan karakteristik kualitas, standar penerimaan, jenis dan criteria kecacatan, dan aktivitas kritis. Data yang diambil didasarkan pada quality plan yang telah dibuat dan untuk memudahkan pengambilan datanya maka digunakan check sheet. Untuk mengolah data maka dibuatlah peta kendali. Data kemudian dianalisa dengan pembuatan diagram pareto untuk mengetahui jumlah kecacatan dari yang besar sampai yang kecil, sehingga dapat dibuat cause and effect diagram. Setelah dilakukan analisa dari quality plan diperoleh proses kritis yang harus mendapatkan perhatian yang lebih lagi sehingga pada proses tersebut dapat ditekan seminimum mungkin prosentase kecacatannya. Proses kritis tersebut yaitu pada proses corrugating, printing, stitching, dan lilin.

Keyword : quality plan, quality control

Sumber : http://repository.petra.ac.id/3741/

Analisa penggunaan absorber pada speaker ukuran 15″

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : SILVANA, CAROLINE

Analisa Penggunaan Absorber Pada Speaker Ukuran 15 ” Iron Chip (IRC) adalah jenis kecacatan yang sering terjadi di lini produksi dimana speaker kemasukan benda asing yang dapat terpengaruh oleh medan magnet. Maka dari itu, penulis mencari cara untuk mengurangi angka cacat IRC tersebut. Dalam melakukan penelitiannya, penulis melakukan beberapa langkah. Langkah pertama adalah menguji sampel menggunakan uji proporsi. Sampel yang dipakai ialah speaker ukuran 15″ dan speaker ukuran 12″ . Hasil yang didapatkan ialah persentase kerusakan jenis IRC pada speaker ukuran 15″ lebih besar daripada persentase kerusakan jenis IRC pada speaker ukuran 12″ . Hal ini terjadi karena ada perbedaan perlakuan dimana speaker ukuran 12″ melewati proses absorber sedangkan speaker ukuran 15″ tidak melewati proses absorber. Absorber adalah mesin untuk mengurangi IRC. Setelah itu penulis mengusulkan penggunaan absorber untuk speaker ukuran 15″ dengan harapan agar kecacatan jenis IRC dapat dikurangi sehingga ada pengurangan biaya yang dikeluarkan. Langkah selanjutnya adalah membandingkan biaya untuk memproduksi speaker ukuran 15″ dengan menggunakan absorber dan speaker ukuran 15″ tanpa menggunakan absorber. Perhitungan biaya ini menunjukkan bahwa melalui penggunaan absorber pada speaker ukuran 15″ mampu menghemat biaya sebesar 5.09 %. Kesimpulannya ialah penggunaan absorber pada speaker ukuran 15″ mampu mengurangi kecacatan IRC sehingga mampu pengurangan biaya.

Keyword : quality control, irc defect, speaker, absorber, cost reducement

Sumber : http://repository.petra.ac.id/2542/

Older Posts »

The Silver is the New Black Theme. Create a free website or blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 45 other followers