Kumpulan Skripsi & Artikel Jurnal Ilmiah

2009

Pembuatan keramik alumina berpori dengan proses slip casting memanfaatkan tepung jagung dan tepung tapioka

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : PERDANA, DIAN

Porositas bisa menjadi awal kegagalan sebuah komponen struktural, tetapi kehadiran porositas sengaja diciptakan untuk membuat keramik berpori. Penelitian ini memanfaatkan bahan alam berupa tepung jagung dan tepung tapioka yang ditambahkan pada suspensi alumina dalam air yang kemudian dicetak dengan proses slip casting untuk membuat keramik alumina berpori. Penambahan tepung jagung dan tepung tapioka pada slip divariasi pada 30 % dan 50 % volum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah dan ukuran pori-pori bergantung pada karakteristik awal tepung yang ditambahkan. Foto SEM pada sampel tahap pra-sinter (1000? C) menunjukkan partikel alumina mulai terjadi ikatan antar partikel dan semua tepung sudah meninggalkan sampel dan menghasilkan pori-pori. Tahap sinter (1600? C) akan menyebabkan pengurangan pori-pori yang telah terbentuk dibandingkan tahap pra-sinter. Hal tersebut terjadi karena hilangnya pori-pori yang berukuran kecil dan reduksi ukuran pori-pori yang berukuran besar. Hasil sinter menunjukkan pori-pori pada sampel dengan penambahan tepung tapioka lebih besar dibandingkan tepung jagung.

Keyword : slip casting, corn powder, cassava powder, alumina, alumina porous

Sumber : http://repository.petra.ac.id/2980/

Pembuatan keramik alumina dengan proces slip casting

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : EKO, DENNY

Penelitian ini mempelajari pengaruh variasi % berat alumina terhadap penyusutan, porositas, kekerasan, dan bulk density yang dihasilkan pada pembuatan keramik alumina. Metode pembuatan keramik alumina dilakukan dengan proses slip casting dengan variasi berat alumina dalam slip, yaitu 40%, 50%, dan 60% berat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bulk density maupun kekerasan yang dihasilkan sampel dengan 60% berat alumina paling tinggi yaitu 49,56% berat jenis teoritis dan 334,67 Kgf/mm? dibanding sampel dengan 50% berat alumina yaitu 46,72% berat jenis teoritis dan kekerasan 282,67 Kgf/mm?. Sampel dengan 40% berat alumina memiliki berat jenis teoritis paling rendah yaitu 40% berat jenis teoritis. Hal ini didukung oleh pangamatan struktur mikro dengan SEM yang menunjukkan porositas paling rendah pada 60% berat alumina. Hal yang sama diperoleh pada penyusutan yang juga menunjukkan paling rendah pada sampel dengan 60% berat alumina. Hasil diatas dikarenakan oleh sampel dengan 60% berat alumina memiliki kontak antar partikel paling banyak dibanding 50% dan 40% berat alumina sehingga proses difusi selama proses sinter terjadi paling efektif.

Keyword : sintering temperature, alumina, slip casting, shrinkage, porosity, hardness, bulk density

Sumber : http://repository.petra.ac.id/3035/

Penambahan tepung jagung pada campuran serbuk alumunium dengan atau tanpa penambahan serbuk alumina untuk pembuatan reaction bonding alumina

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : WIBISONO, GUNAWAN

Pembuatan alumina dengan proses Reaction Bonding Aluminium Oxide (RBAO) yang dibuat dari seluruhnya serbuk aluminium (Al) dengan penambahan tepung jagung telah menunjukkan keberhasilan dimana selama proses penyusunan diri partikel serbuk Al dan pori-pori yang ditinggalkan oleh penambahan tepung jagung telah menyediakan sejumlah rongga sebagai jalan masuk O2 sampai ke bagian tengah sampel. Keberhasilan RBAO sangat bergantung pada bentuk dan ukuran serbuk Al. Partikel Al berbentuk flakes digunakan dalam penelitian ini yang dicampurkan dengan 30% berat tepung jagung (sampel A) dan dengan tambahan serbuk Al2O3 polygonal ((25% berat Al2O3 +75 % berat Al)+30% berat tepung jagung) disebut dengan sampel B. Green compact berbentuk pellet dilakukan pemanasan pada variasi suhu 1000?C – 1400?C. Seluruh sampel hasil sinter dilakukan pengujian struktur mikro (SEM), derajat oksidasi (ICP-S), mengukur density dan penyusutannya menggunakan prinsip Archimedes dan pengukuran dimensi. Konfigurasi susunan partikel yang berbeda pada campuran A dan B menunjukkan hasil-hasil berikut setelah dipanasi pada 1000?C – 1400?C. Pori yang terbentuk berasal dari celah antara susunan flakes dan yang ditinggalkan tepung jagung. Kenaikan tingginya derajat oksidasi dapat pada pertambahan dimensi dan massa sampel karena berikatnya O2 menjadi Al2O3. Terjadi penambahan tinggi sebesar 2,4 – 3,5% untuk sampel A dan 0 – 2,4% untuk sampel B, sedangkan massa bertambah dari 53 – 61 % pada sampel A dan 46 – 47% pada sampel B. Analisa ICP (Inductively Coupled Plasma) menunjukkan kadar Al yang tersisa hanya 0,82% dan 0,51% untuk sampel A1 dan A4 berturut-turut dan untuk sampel B1 dan B4 menunjukkan 21,3% dan 1,20% berat. Pemanasan sampai 1400?C belum menunjukkan proses sinter telah tuntas. Hal ini dibuktikan oleh masih adanya sejumlah pori kecil dan besar yang terdapat pada struktur mikro. Selain itu pengukuran bulk density menunjukkan pencapaian sebesar 41 – 47% bj teoritis.

Keyword : reaction bonding, oxidation degrees, alumina, corn starch, bulk density, inductively coupled plasma spectrometry

Sumber : http://repository.petra.ac.id/5079/

Blog at WordPress.com.