Kumpulan Skripsi & Artikel Jurnal Ilmiah

2009

Penelitian awal mortar yang menggunakan admixture berupa superplasticizer, polypropylene fiber dan styrenne butadienne rubber

Author : CHANDRA;, ADITYA

Penelitian awal mortar yang menggunakan admixture berupa superplasticizer, polypropylene fiber dan styrenne butadienne rubber dilakukan untuk meningkatkan ketahanan mortar terhadap retak pada bangunan yang menggunakan dinding batu bata dan plesteran. Penelitian tentang properties mortar yang baik di Indonesia masih terbatas, padahal banyak terjadi masalah keretakan pada bangunan yang menggunakan batu bata dan plesteran. Penelitian ini menggunakan Fractional Factorial Design dari Taguchi?s Array Orthogonal Method. Untuk menunjang penelitian di laboratorium dibuat Initial Surface Absorption Test Apparatus, kemudian dilakukan beberapa tes pada umur 28 hari untuk mengetahui properties dari mortar seperti compressive strength, tensile strength, linear shrinkage, water absorption dan initial surface absorption. Dari hasil analisa data yang dilakukan diketahui beberapa properties, seperti compressive strength, yang terkecil 5.78 MPa, sedangkan yang terbesar 17.19 Mpa, tensile strength yang terkecil 0.392 MPa, sedangkan yang terbesar 1.871 MPa, shrinkage yang terkecil 0.34 mm, sedangkan yang terbesar 0.83 mm, density yang terkecil 1.75 gr/cm? sedangkan yang terbesar 1.99 gr/cm?, water absorption yang terkecil 6.264 %, sedangkan yang terbesar 9.883 %, initial surface absorption-nya pada waktu 30 detik pertama, yang terkecil adalah 3.75ml/m?.s, sedangkan yang terbesar 17.25 ml/m?.s. Mix dengan komposisi paling baik adalah mix dengan komposisi semen : pasir = 1:5, superplasticizer 0.4%, pp fiber 0.025 %, latex 0.5%.

Keyword : crack, composition, mortar, compressive strength, tensile strength, initial surface absorption test, absorption, shrinkage, superplasticizer, polypropylene fiber, styrenne butadienne rubber

Sumber : http://repository.petra.ac.id/4568/

Use of two factor design for making concrete paving block with fly ash

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : HANDOKO;, HALIM

A research has been carried out in Concrete and Construction Laboratory of Petra Christian University in Surabaya. The purpose of this research is to obtain information about the effect of paving stone type (fly ash/cement ratio) and curing period on paving stone strength using two Factorial Design Analysis. From the research, paving block type 0 (0% fly ash and 100% cement) gives the highest mean strength, 377.93 kg/cm 2 after 90 days of curing. The lowest mean strength, 155.05 kg/cm 2 given by paving block type 3 (30% fly ash and 70% cement), after 28 days of curing. Two factor design analysis gives result that paving stone type gives greater effect to compressive strength than curing period and there is no significant interaction between paving stone type and curing period.

Keyword : paving, compressive strength, two factor design, curing, fly ash, cement

Sumber : http://repository.petra.ac.id/4598/

Pengaruh oil sand pada green sand mold terhadap kualitas permukaan produk cor dan permeabilitas cetakan

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : SENGGONO, HERRCEY

Pada pengecoran cetakan pasir, kualitas permukaan produk cor yang dihasilkan dipengaruhi antara lain oleh kualitas cetakan dan komposisi cetakan pasir. Dengan kualitas permukaan cetakan pasir yang rendah akan mengakibatkan kualitas permukaan produk cor yang dihasilkan akan rendah pula. Pada komposisi cetakan pasir dengan kandungan air yang tinggi, mengakibatkan gas yang timbul saat penuangan logam cair dalam rongga cetakan semakin banyak dan kemungkinan untuk terperangkap semakin besar akibat permeabilitas cetakan yang rendah. Hal ini mengakibatkan kualitas permukaan produk cor yang dihasilkan menjadi rendah. Dengan mengurangi kadar air dan menggantikannya dengan minyak (oil sand) dalam komposisi cetakan pasir akan mengurangi timbulnya gas dan mengurangi kontak antara logam cair dengan cetakan pasir, sehingga akan meningkatkan kualitas permukaan produk cor. Disamping itu kekuatan cetakan akan meningkat. Komposisi cetakan pasir yang digunakan terdiri dari pasir silika, bentonit, gula tetes, minyak dan air. Unsur yang divariasikan adalah minyak, yaitu sebesar 1%, 2% dan 3%, sedangkan air sebagai penyeimbang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan penambahan kadar minyak dalam komposisi cetakan pasir, akan meningkatkan kualitas permukaan produk cor yang dihasilkan. Penambahan kadar minyak dari 1% hingga 3% meningkatkan kualitas permukaan sebesar 33,348%. Dengan semakin tinggi kadar minyak, permeabilitas cetakan akan semakin rendah dan kekuatan tekan akan meningkat.

Keyword : oil sand, green sand mold, surface quality, permeability, compressive strength

Analisa penambahan bentonit dan tepung tapioka terhadap kekuatan tekan dan permeabilitas cetakan pasir kering

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : ARY, YOHAN

Pengecoran logam dengan cetakan pasir merupakan salah satu cara yang paling ekonomis dalam memproduksi suatu barang. Pengecoran logam dengan cetakan pasir basah mempunyai beberapa kelebihan, yaitu cocok digunakan untuk produksi dengan jumlah produk sedikit tetapi memiliki variasi banyak. Namun cara ini juga memiliki kelemahan, diantaranya adalah kekuatan tekan cetakan yang kurang dan permeabilitas pasir yang buruk. Cetakan pasir kering merupakan pengembangan dari cetakan pasir basah, yang memiliki keunggulan dibandingkan dengan cetakan pasir basah dalam hal kekuatan tekan dan permeabilitas. Pada penulisan ini, unsur pengikat yang digunakan adalah bentonit dan tepung tapioka.

Keyword : dry sand mold, compressive strength, permeability, bentonite, tapioca starch

Diagnosa dan evaluasi kerusakan gedung Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria, Kepanjen, Surabaya

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : JUWONO;, GUNAWAN

Diagnosa dan evaluasi kerusakan pada gedung gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria, Jl. Kepanjen 4-6, Surabaya dilakukan dalam rangka usaha konservasi. Gereja ini merupakan salah satu monumen arsitektural yang berusia lebih dari 100 tahun. Gedung yang terbuat dari batu bata sebagai komponen strukturalnya itu kini mengalami kerusakan di beberapa bagian akibat usianya yang cukup tua dan cuaca. Dalam penelitian ini dibahas mengenai macam dan jumlah kerusakan yang terjadi, dilakukan beberapa tes untuk mengetahui properties batu bata yang digunakan seperti water absurption, density, dan compressive strength, juga mengetahui komposisi mortar pengikat batu bata tersebut. Dari hasil analisa yang dilakukan diketahui bahwa batu bata yang digunakan mempunyai variasi yang besar dalam propertiesnya, seperti pada water absorption-nya, terkecil adalah 11.96 %, sedangkan yang terbesar adalah 25.63 %, untuk density, yang terkecil 1.47 g/cm, sedang yang terbesar adalah 1.87 g/cm3, juga pada compressive strength, yang terkecil senilai 0.68 MPa dan yang terbesar adalah 3.93 MPa . Diketahui pula bahwa kerusakan yang terjadi tidak banyak berpengaruh pada properties batu bata tersebut.

Keyword : deterioration, bricks. water absorption, density, compressive strength, mortar

Sumber : http://repository.petra.ac.id/1081/

Penelitian awal penggunaan sodium silicate Be 34 R 3,3 dalam meningkatkan mutu beberapa properties campuran mortar

Author : BUDI, GUNAWAN

Penambahan sodium silicate bertujuan untuk meningkatkan beberapa propertis dari campuran mortar antara lain compressive strength, tensile strength, linear shrinkage, water absorpiion, density, dan initial surface absorption. Penelitian ini menggunakan metode taguchi ‘s fractional factorial design untuk membuat 4 variasi mix dengan perbandingan semen: pasir dan kadar sodium silicate yang berbeda. Dari hasil percobaan, didapatkan nilai compressive strength terbesar 7,87 MPa dan terkecil 3,60 MPa, tensile strength terbesar 2,02 MPa dan terkecil 0,30 MPa, linear shrinkage terkecil 0,02 mm dan terbesar 0,10 mm, water absorption terkecii 4,78 % dan terbesar 8,14 %, density terbesar 2,09 gr/cm 3 dan terkecil 1,92 gr/cm 3 , initial surface absorption terkecil 4,53 ml/m 2 s dan terbesar 16,19 ml/m 2 s. Nilai propertis dari 4 macam mix tersebut kemudian dibandingkan terhadap mortar normal. Dari hasil analisa yang dilakukan dapat diketahui bahwa penambahan sodium silicate dapat meningkatkan compressive strength sampai 28 %, tensile strength sampai 80 %, linear shrinkage sampai 79 %, water absorption sampai 30 %, dan initial surface absorption sampai 51 %. Sedangkan untuk density penambahan sodium silicate tidak memberikan manfaat yang berarti. Mix design dengan komposisi semen : pasir = 5:17 dan kadar sodium silicate 2,50 % menghasilkan mortar dengan mutu propertis paling baik.

Keyword : sodium silicate, compressive strength, tensile strength, linear shnnkage, water absorption, density, initial surface absorption

Sumber : http://repository.petra.ac.id/1571/

Penelitian mengenai pengaruh polypropylene fibre pada self compacting concrete terhadap kuat tekan dan kuat tarik

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : GUNAWAN, JEFRY

Self Compacting Concrete ( SCC ) merupakan campuran beton yang mampu memadat sendiri tanpa menggunakan vibrator. SCC memerlukan mineral admixtures berupa fly ash serta chemical admixture berupa viscocrete yang berviskositas tinggi agar flowable. Beton juga memiliki kekurangan dalam penggunaannya yaitu kuat tarik yang rendah. Oleh sebab itu, dalam penelitian ini digunakan polypropylene fibre sehingga dapat meningkatkan kuat tarik pada beton. Pada penelitian ini, syarat-syarat SCC harus diperiksa. Pengujian filling ability dilakukan dengan menggunakan slump cone, sedangkan passing ability dengan L ? shaped box. Polypropylene fibre yang diberikan dalam campuran beton sebesar 0.6 kg/m 3 dari total volume beton. Untuk komposisi semen dengan fly ash dipakai 8 : 2 dan 7 : 3 yang masing – masing komposisi diberi dosis viscocrete 1.5% dan 2% dari berat total binder. Untuk test kuat tekan dan kuat tarik dilakukan pada umur 7, 14, 28 dan 56 hari. Hasil pengujian menunjukkan bahwa komposisi fly ash dan dosis viscocrete optimal untuk menghasilkan kuat tekan yang tinggi adalah komposisi fly ash 30% dan dosis viscocrete 1.5%. Sedangkan untuk kuat tarik yang tinggi dihasilkan dari komposisi fly ash 20% dengan dosis viscocrete 2%. Penambahan polypropylene fibre pada SCC tidak memperlihatkan kenaikan kuat tarik sedangkan untuk kuat tekannya lebih rendah.

Keyword : self compacting concrete, fly ash, polypropylene fibre, viscocrete, flowability, compressive strength, tensile strength

Sumber : http://repository.petra.ac.id/2843/

Komposisi alkaline aktivator dan fly ash untuk beton geopolimer mutu tinggi

Author : YUWONO, CALVIN

Beton geopolymer atau beton dengan bahan dasar 100% fly ash ini merupakan salah satu alternatif pengganti beton yang pada umumnya menggunakan semen sebagai bahan dasar. Fly ash sendiri tidak dapat mengeras seperti halnya semen, maka dibutuhkan alkaline aktivator untuk mengikat fly ash. Beton geopolymer merupakan suatu material baru dan cukup potensial untuk digunakan di dalam dunia konstruksi. Tujuan dari penelitian ini adalah mencari komposisi mix design beton geopolymer mutu tinggi. Di dalam penelitian ini, parameter yang digunakan adalah perbandingan sodium silikat dan sodium hidroksida, konsentrasi sodium hidroksida, penggunaan superplasticiser, persiapan alkaline aktivator yang digunakan, faktor air-fly ash, kekuatan beton berdasarkan umur, perbandingan fly ash dan pasir, dan pengamatan terhadap pola keruntuhan yang terjadi. Hasilnya menunjukan bahwa perbandingan sodium silikat : sodium hidroksida yang paling efektif adalah 2.5. Konsentrasi sodium hidroksida yang menghasilkan kuat tekan beton tertinggi dalam penelitian ini adalah 8 Molar. Kuat tekan beton geopolymer yang dihasilkan paling optimum dalam penelitian ini adalah 75.77 MPa.

Keyword : geopolymer concrete, alkaline activator, compressive strength, fly ash, sodium silicate, sodium hydroxide, superplasticiser

Sumber : http://repository.petra.ac.id/2858/

Penelitian self compacting concrete dengan fly ash dan silica fume terhadap absorpsi dan kuat tekan

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : CHRISTINA;, VANDA

Self Compacting Concrete ( SCC ) merupakan beton yang dapat memadat sendiri tanpa vibrator sehingga ukuran dan proporsi agregat kasar harus dibatasi. SCC memerlukan mineral admixtures berupa fly ash dan silica fume serta chemical admixture berupa viscocrete yang berviskositas tinggi agar flowable. Hal ini menyebabkan SCC bersifat watertight concrete yang dapat digunakan pada struktur beton yang berhubungan dengan air. Selama ini penggunaan SCC di lapangan tidak diuji tingkat absorpsinya. Dari penelitian terdahulu tentang SCC, didapatkan penggunaan optimal fly ash adalah 20% dan 30%. Sedangkan dari P.T. Sika sebagai produsen silica fume, didapatkan penggunaan optimal silica fume adalah 5% dan 10% dari berat binder. Komposisi yang diteliti diperoleh dari trial mix agar persyaratan flowability, yaitu filling ability dan passing ability dapat terpenuhi. Pengujian filling ability dilakukan dengan slump cone, sedangkan passing ability dengan L ? Shaped Box. Tes absorpsi dilakukan pada umur beton 7 dan 28 hari, sedangkan tes kuat tekan pada umur 7, 14, 28 dan 56 hari. Komposisi yang diuji adalah semen dengan fly ash 8 : 2 dan 7 : 3 serta semen dengan silica fume 9.5 : 0.5 dan 9 :1, masing – masing komposisi diberi dosis viscocrete 1%, 1.5% dan 2% dari berat semen. Hasil pengujian menunjukkan dosis viscocrete optimal agar memenuhi syarat flowability adalah 1.5%. Komposisi optimal untuk menghasilkan nilai absorpsi yang rendah adalah fly ash 20% dan viscocrete 2%, serta silica fume 5% dan viscocrete 2%. Sedangkan komposisi optimal untuk menghasilkan kuat tekan yang tinggi adalah fly ash 30% dan viscocrete 2%, serta silica fume 10% dan viscocrete 1.5%.

Keyword : self compacting concrete, fly ash, silica fume, viscocrete, flowability, absorption, compressive strength

Sumber : http://repository.petra.ac.id/3409/

Komposisi dan karakteristik beton geopolimer dari fly ash tipe c dan tipe f

Filed under: Uncategorized — Tags: , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : KOSNATHA;, SANDY

Beton geopolymer yang merupakan beton dengan bahan dasar 100 % fly ash merupakan material yang cukup potensial digunakan sebagai bahan pengganti semen. Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan beton geopolymer yang dibuat dengan dua jenis fly ash yang berbeda, yaitu tipe C dan tipe F. Dalam penelitian ini dilakukan pembuatan beton geopolymer dengan berbagai macam parameter antara lain komposisi sodium hidroksida, sodium silikat, perbandingan water/binder, dan pengaruh proses curing yang digunakan. Pengaruh umur terhadap kekuatan beton juga akan ditinjau dalam penelitian ini. Kekuatan tekan beton geopolymer yang menggunakan fly ash tipe C ternyata lebih lebih tinggi daripada tipe F, baik yang menggunakan curing dengan oven maupun pada suhu ruang. Di samping itu penambahan umur tidak terlalu berpengaruh terhadap kekuatan tekan. Penggunaan oven memberikan peningkatan kekuatan awal yang tinggi.

Keyword : geopolymer concrete, fly ash, compressive strength

Sumber : http://repository.petra.ac.id/3676/

Blog at WordPress.com.