Kumpulan Skripsi & Artikel Jurnal Ilmiah

2009

Studi tentang prosedur pemeriksaan ketahanan struktur rangka beton bertulang terhadap beban gempa

Filed under: Uncategorized — Tags: , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : TANOJO;, EFFENDY

Pada awal tahun 1980-an Indonesia mengawali era baru dalam perencanaan struktur terhadap beban gempa. Hal ini ditandai dengan dikeluarkannya Peraturan Perencanaan Tahan Gempa Indonesia Untuk Gedung (PPTGIUG) 1983 atau sekarang bernama Pedoman Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Rumah dan Gedung (PPKGURG), SKBI-1.3.53.1987, yang dipakai sampai saat ini. Peraturan ini mensyaratkan penggunaan Desain Kapasitas dalam perencanaan struktur bangunan terhadap gempa. Bangunan-bangunan yang didirikan sebelum tahun 1983 tidak direncanakan dengan taraf pembebanan gempa yang memadai seperti yang disyaratkan dalam PPTGIUG 1983 tersebut. Disamping itu, karena tidak direncanakan dengan konsep Desain Kapasitas, tipe keruntuhan yang akan terjadi tidak dapat diprediksi sebelumnya. Oleh karena itu perlu dilakukan evaluasi terhadap kemampuan dan perilaku struktur tersebut. Hingga saat ini di Indonesia belum ada suatu metode evaluasi standar yang dapat digunakan untuk memeriksa ketahanan suatu bangunan terhadap beban gempa rencana. Sebuah studi telah dilakukan untuk mempelajari beberapa metode evaluasi yang pernah diusulkan yaitu metode perbandingan antara kapasitas dan kebutuhan dan metode static force-based. Tetapi tidak semua metode di atas sesuai untuk digunakan di Indonesia. Setelah mempelajari kedua metode evaluasi di atas studi ini mengusulkan suatu metode evaluasi alternatif yang keandalannya cukup baik dan prosedumya tidak terlalu rumit.

Keyword : earthquake loading, concrete

Perencanaan mesin pengaduk dan pengangkut bahan cor beton

Filed under: Uncategorized — Tags: , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : LO, HERMAN

Sampai saat ini masih banyak proses manual yang digunakan untuk membangun rumah-rumah sederhana khususnya dalam mencampur dan mengangkut bahan cor beton. Dengan proses manual membutuhkan waktu lama dan tenaga kerja yang banyak Untuk mempermudah proses pencampuran dan pengangkutan bahan cor beton, maka direncanakan alat pengaduk dan pengangkut bahan cor beton. Alat pengaduk yang direncanakan menggunakan wadah tabung pengaduk yang dapat dibalik arah putarannya untuk mengaduk dan mengeluarkan bahan campuran cor beton. Alat pengangkut yang direncanakan menggunakan sistem pneumatic untuk mendorong bahan campuran cor beton didalam tabung hingga ketinggian yang ingin dicapai. Untuk memvalidasi hasil rancangan, dibuat model mekanisme pengaduk dan pengangkut campuran beton dengan perbandingan skala 1 : 10. Hasil perencanaan mesin pengaduk dan pengangkut bahan campuran cor beton dapat mengaduk bahan campuran cor beton dengan kapasitas 200 liter dan mengangkutnya hingga ketinggian kurang lebih 5 meter. Hasil uji model menunjukkan bahwa mekanisme dapat mengaduk bahan campuran cor beton dengan kapasitas 20 liter dan mengangkut bahan campuran cor beton tersebut dengan ketinggian yang sama dengan hasil perencanaan karena volume tidak mempengaruhi ketinggian pengangkutan.

Keyword : concrete, material, machine

Sumber : http://repository.petra.ac.id/4818/

Perilaku penggunaan bottom ash pada campuran aspal beton

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : A.Y., PATRICK

Pemakaian batu bara sebagai sumber energi menghasilkan residu berupa bottom ash yang menimbulkan pencemaran lingkungan. Penggunaan bottom ash sebagai material pekerasan jalan adalah salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti efek penggunaan bottom ash sebagai pengganti agregat halus terhadap stabilitas, kelelehan, rongga udara, rongga terisi aspal dan Marshall quotient dari campuran aspal beton tipe XI. Penelitian dilakukan di Laboratorium Perkerasan dan Bahan Jalan Universitas Kristen Petra, Surabaya, dengan menguji efek pemakaian bottom ash sebagai pengganti F3 (agregat 0-5 mm), F4 (pasir) sebesar 10%-100% serta F3 dan F4 sebesar 5%-50%. Hasil terbaik dari setiap variasi diberi bahan aditif (chemcrete) untuk mengetahui pengaruhnya terhadap campuran aspal beton yang menggunakan bottom ash. Dari penelitian ditemukan bahwa persentase terbaik pemakaian bottom ash terhadap F3, F4, maupun F3 dan F4 adalah 10%. Dari ketiga variasi tersebut hasil terbaik dlperoleh pada penggantian terhadap F4 (pasir). Penggunaan cemcrete meningkatkan nilai stabilitas serta memperbaiki nilai rongga udara dan rongga terisi aspal. Kata kunci: Bottom ash, aspal beton (AC) tipe XI, agregat halus, stabilitas, kelelehan, rongga udara, rongga terisi aspal, Marshall Quotient

Keyword : pavement, asphalt, concrete, bottom ash

Perilaku aspal beton terhadap pamakaian abu ampas tebu

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : TANAN;, NATALIA

Semen portland, debu batu dan kapur sudah banyak digunakan sebagai bahan pengisi campuran aspal beton di Indonesia. Tapi harganya relatif mahal sehingga perlu dipikirkan alternatif pengganti yang mudah didapat secara lokal agar harganya lebih ekonomis. Hal ini yang mendorong penulis melakukan penelitian terhadap abu ampas tebu sebagai salah satu bahan lokal menjadi alternatif pengganti. Setelah diadakan analisa secara kimiawi, abu ampas tebu mengandung kadar silika cukup tinggi yang diharapkan mampu meningkatkan stabilitas campuran . Dalam penelitian ini diuraikan evaluasi laboratorium campuran aspal beton dengan menggunakan kadar aspal optimum 7.4% dan abu ampas tebu dengan persentase kadar terhadap berat total campuran: sebagai pengganti F3 (ukuran 0-5 mm): 3%-6.5%, sebagai pengganti F4 (Pasir): 3%- 6%, sebagai pengganti F3 dan F4: 3%-6%. Masing-masing sampel campuran aspal beton dengan variasi kadar abu ampas tebu seperti yang disebutkan di atas diuji karakteristiknya yang dilihat dari nilai: stabilitas, flow, Marshall Quotient, persentase Air Voids dan persentase Voids Filled. Hasil pengujian tersebut dibandingkan dengan hasil pengujian campuran aspal beton yang tidak menggunakan abu ampas tebu. Dan dari hasil pengujian tersebut, dicari pula kadar abu ampas tebu yang menghasilkan karakteristik yang paling optimum. Dari hasil percobaan, campuran aspal beton dengan abu ampas tebu sebagai pengganti F3 menunjukkan stabilitasnya cenderung mengalami penurunan sampai kadar abu ampas tebu 5% dan kembali meningkat pada persentase selanjutnya. Hal yang sama terjadi pada campuran aspal beton dengan abu ampas tebu sebagai pengganti F4. Sedangkan pada campuran aspal beton dengan abu ampas tebu sebagai pengganti F3 dan F4 stabilitasnya menurun sampai kadar abu ampas tebu 4,5% dan kembali meningkat pada persentase selanjutnya. Penelitian yang diuji dengan Marshall Test memberikan hasil bahwa pemakaian abu ampas tebu dengan persentase berat abu ampas tebu 3% terhadap berat total sebagai pengganti F3 akan menghasilkan campuran yang terbaik. Di mana bila dibandingkan dengan campuran aspal beton tanpa menggunakan abu ampas tebu, stabilitasnya akan meningkat sebesar 10.24%, flow cenderung menurun , persentase air voids cenderung meningkat, persentase voids filled cenderung menurun, serta MQ cenderung lebih besar.

Keyword : pavement, asphalt, concrete, abu, ampas tebu, silika

Penggunaan preloaded bulb untuk mengatasi masalah penurunan tanah pada pondasi dangkal.

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : BUDIONO;, DHARMO

Beban dari suatu pondasi dangkal akan diterima oleh tanah dibawah pondasi tersebut didalam suatu luasan yang berbentuk bola yang umumnya disebut “presure bulb”. Tanah diluar luasan ini dapat dikatakan tidak terpengaruh oleh beban pondasi. Bila tanah didalam presure bulb adalah suatu lapisan tanah lunak maka tanah tersebut akan mengalami penurunan jangka panjang yang cukup besar. Oleh karenia itu penggantian tanah lunak ini. Model dari preloaded bulb dimana tanah pasir ditekan masuk kedalam tanah dengan gaya tekan tertentu telah menunjukkan hasil yang menjanjikan (Doddi dan Denny, 1998; Rita dan Ella, 1998; Susan H. dan Centaury B.A., 1998) Dengan menggunakan dongkrak hidrolis dilakukan penelitian di lapangan berupa pembuatan 6 (enam) preloaded bulb dimana bulb dibuat dengan gaya tekan 30, 40 dan 50 ton. Masing-masing bulb dibentuk dengan material sirtu saja dan campuran sirtu dan seman sehingga akan diketahui pengaruh semen di dalam material bulb yang digunakan. Hasil test pembebanan yang dilakukan menunjukkan suatu kenaikan daya dukung yang cukup besar dibandingkan dengan pondasi tanpa bulb dibawahnya. Penggunaan semen sebagai material campuran bulb dalam hal ini tidak menunjukkan perbedaan yang berarti.

Keyword : steel, concrete, construction, building, wooden, iron, preloaded bulb

Potensi pemakaian agregat Samarinda terhadap kuat tekan beton

Filed under: Uncategorized — Tags: , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : SUSANTO;, ERWIN

Pemakaian beton dikota Samarinda merupakan kebutuhan utama dalam struktur bangunan mengingat Samarinda ibukota Kalimantan Timur memiliki prospek yang baik di dalam dunia properties. Agregat kasar yang umum digunakan untuk struktur adalah menggunakan batu pecah dari Palu, sedangkan batu pecah Samarinda selama ini hanya digunakan pada non struktur. Agregat halus yang umum digunakan adalah pasir Tenggarong. Pada skripsi ini dilakukan pengujian terhadap karakteristik masing-masing agregat baik secara fisik maupun kimiawi dan kuat tekan beton dengan mutu K- 225 dan K-400 untuk batu pecah Palu dan Samarinda. Penggunaan Superplasticizer Sikament NN di harapkan dapat membantu pencapaian Target Mean Sterngth pada mutu beton K-400. Untuk agregat halus berat volume pasir: 1,38^^^ berat jenis: 2,6, kadar air (SSD): 1,04% dan modulus kehalusan: 2,01. Untuk agregat kasar batu pecah Palu dan Samarinda masing-masing; berat volume: 1,41 gr/cm^^^dan 1,16 berat jenis: 2,6 dan 2,59, kadar air (SSD): 0,97% dan 2,09%, modulus kehalusan: 7,36 dan 5,97, dan uji abrasi: 3 1,64% dan 38,14%. Hasil pengujian kimia untuk pasir; Dissolved Silica dan Reduction in Alkalinity yaitu: 64,3 dan 93,9 (millimole/liter). Sedangkan pada batu pecah Palu dan Samarinda masing-masing; Dissolved Silica diperoleh 2 1,9 dan 15,06 (millimole/liter) dan Reduction in Alkalinity diperoleh 94,1 dan 70,6 (millimole/liter). Superplasticizer Sikament NN yang digunakan sebesar 0,5% dari berat semen dan mengurangi jumlah air sebesar 15%. Untuk mutu beton K-225 dengan Target Mean Strength = 323,4 kg/cm^^, diperoleh kuat tekan beton rata-rata yang dihasilkan dari batu pecah Palu dan Samaricda masing-masing 384.85 kg/cm^^ dan 305,58 kg/cm^^, sedangkan untuk mutu beton K-400 dengan Target Mean Strength = 498,4 kg-cm^^ diperoleh kuat tekan rata-rata yang dihasilkan dari batu pecah Palu = 535,92 kg/cm^^

Keyword : concrete, testing, samarinnda

Sumber : http://repository.petra.ac.id/866/

Penggunaan abu ampas tebu untuk pembuatan beton dengan analisa faktorial desain

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : DISURYA, WIRA

Beton merupakan salah satu jenis dari struktur bangunan yang paling banyak digunakan Penelitian tentang beton telah banyak dilakukan dan salah satunya adalah penggunaan fly ash dalam pembuatan beton. Penggunaan fly ash ini bertujuan untuk mengurangi kadar semen dalam pembuatan beton karena semen lebih mahal dibandingkan dengan fly ash itu sendiri. Disamping itu kandungan Si02 dan Al2O3 yang cukup tinggi pada fly ash dapat meningkatkan kekuatan beton atau setidaknya dapat menyamai kekuatan beton yang menggunakan semen. Dengan mengacu hal tersebut maka dalam penelitian ini dipakai abu ampas tebu (bagasse ash) sebagai pengganti sebagian semen dan pembuatan beton. Abu ampas tebu yang dipakai berasal dari Pabrik Gula Candi Baru (bottom ash) dan Pabrik Gula Tulangan (fly ash). Jumlah penggantian bottom` ash dan ,fly ash bervariasi antara 10%- 10%, 10%-5%, 5%-10%, dan 5%-5%. Sampel beton yang dibuat dilakukan pengetesan terhadap kuat tekan, kuat lentur, dan penyerapan air, disamping itu dilakukan analisa dengan menggnakan metode 23 faktorial desain untuk mencari hail optimum. Hasil yang diperoleh adalah beton dengan campuran bagasse ash memiliki kekuatan awal yang lebih rendah dari beton normal tetapi memiliki peningkatan kekuatan yang lebih besar dari umur 28 hari sampai 91 hari.

Keyword : concrete, mixing, abu ampas tebu, faktorial desain

Sumber : http://repository.petra.ac.id/1495/

Studi pengaruh pembentukan ion chloride pada kekuatan beton akibat penggunaan air laut dan air payau

Filed under: Uncategorized — Tags: , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : D.JUDIARTA, VICTOR;

lon Chlorida merupakan salah satu unsur di dalam air yang memiliki sifat korosif dan ion Chlorida tersebut akan mempengaruhi karakteristik beton. Karakteristik yang menjadi perhatian adalah kuat tekannya. Metode penelitian diutamakan pada setting time, kuat tekan dan kadar ion Chlorida. Langkah penelitian meliputi perhitungan kebutuhan air, pengambilan contoh air, pemeriksaan kadar unsur air, pemeriksaan setting time, pembuatan dan uji kuat tekan dan pemeriksaan kadar ion Chlorida. Kesimpulan, ion Chlorida dapat mempercepat setting time, bertambahnya ion Chlorida tidak selalu berarti meningkatkan kuat tekan, grafik kuat tekan sebanding dengan grafik kadar ion Chlorida dan pada waktu tertentu, kurva kadar ion Chlorida dapat menurun atau meningkat.

Keyword : ion chloride, concrete

Sumber : http://repository.petra.ac.id/2079/

Penggunaan debu vulkanis untuk pembuatan beton high performance

Filed under: Uncategorized — Tags: , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : MADE, FARIED;

Debu vulkanis adalah salah satu material yang keluar dari dalam perut bumi pada saat meletusnya gunung berapi. Jumlah debu vulkanis yang keluar pada saat terjadi letusan gunung berapi sangatlah banyak. Sayangnya hanya sedikit debu vulkanis yang telah dimanfaatkan untuk membuat barang yang berguna. Melalui penelitian ini, akan dicoba memanfaatkan debu vulkanis sebagai bahan pengganti dari sebagian semen pada pembuatan beton high performance yang mempunyai kuat tekan tinggi dan tingkat penyerapan air yang rendah. Pada penelitian ini akan ditentukan dahulu komposisi debu vulkanis yang optimum dalam suatu mix desain melalui preliminary design. Setelah komposisi optimum diketahui, akan dianalisa dengan menggunakan metode Faktorial Fraksional Desain (FF) dimana dengan metode ini akan dapat diketahui efek dari debu vulkanis terhadap beton dan juga efek dari masing masing material dan interaksinya pada beton terhadap kekuatan tekan dan penyerapan air.. Pada preliminary experiment ini menunjukkan bahwa untuk hasil level optimum kandungan debu vulkanis 10 %. Komposisi terbaik dari FF desain diketahui bahwa menggunakan air 100 gr, semen 245 gr, agregat halus 825 gr, agregat kasar 1100gr, dan debu vulkanis sebesar 15gr, mempunyai kuat tekan rata rata (kg/cm 2 ) dan penyerapan air (%) sebesar 619.51 dan 0.89104. Koefisien dari air, semen, agregat halus, agregat kasar, dan debu vulkanis untuk kuat tekan adalah -43.80, 3.01, 20.76, 33.64, dan 10.16 dan untuk penyerapan air adalah 0.01, 0.02, -0.07, 0.01, dan 0.24. Dari angka angka tersebut diketahui bahwa dengan menambah aggregat dan mengurangi air ( dengan menggunakan megaplasticizer ) akan dapat menghasilkan beton yang lebih baik.

Keyword : concrete, volcanic ash, high performance concrete

Sumber : http://repository.petra.ac.id/3435/

Contoh aplikasi desain struktur rangka beton bertulang berdasarkan konsep berbasis kinerja

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : LOKOSASMITO;, FEBYANA

Perencanaan struktur terhadap beban gempa yang umum digunakan di Indonesia adalah strength based design dengan konsep capacity design. Desain ini mengutamakan kekuatan struktur tetapi kurang memperhatikan kontrol terhadap kerusakan yang terjadi akibat gempa. Oleh karena itu dikembangkan konsep baru yang memperhatikan tingkat kinerja struktur pasca gempa, seperti kontrol terhadap tingkat kerusakan bangapunan (damage control), yang dikenal sebagai performance based design. Untuk wilayah Asia ada suatu standar yang menjadi acuan bagi standar masing – masing negara yaitu Asian Concrete Model Code (ACMC). ACMC mengatur tentang pemeriksaan performance suatu struktur ditinjau dari tingkat kerusakan serta drift yang terjadi. Standar ACMC ini dalam pengaplikasiannya disesuaikan dengan kondisi dan peraturan yang berlaku di masing ? masing negara Asia. Studi ini membahas tentang pemeriksaan kinerja struktur rangka beton bertulang 10 lantai berdasarkan performance based design sesuai ACMC dengan meninjau dua jenis struktur yaitu struktur dengan daktilitas penuh dan struktur dengan daktilitas terbatas. Kedua jenis struktur, baik struktur dengan daktilitas penuh maupun struktur dengan daktilitas terbatas, didesain sesuai peraturan yang berlaku di Indonesia menurut Badan Standardisasi Nasional tentang ?Tata cara perhitungan struktur beton untuk bangunan gedung? (Badan Standardisasi Nasional, 2002). Analisa perilaku struktur yang digunakan adalah Analisa Statik Non-Linier Pushover dan Analisa Dinamik Non-Linier Riwayat Waktu. Tingkat kinerja bangunan diukur dari drift dan tingkat kerusakan yang terjadi. Dari hasil pemeriksaan kinerja struktur rangka beton bertulang untuk ke-2 jenis struktur yaitu daktilitas penuh dan daktilitas terbatas, terlihat bahwa tingkat kinerja (drift dan tingkat kerusakan yang terjadi) tidak jauh berbeda. Dalam studi ini juga terlihat bahwa struktur rangka beton bertulang dengan daktilitas penuh menggunakan jumlah tulangan yang lebih sedikit bila dibandingkan struktur rangka beton bertulang dengan daktilitas terbatas.

Keyword : building, earthquake, concrete, construction

Sumber : http://repository.petra.ac.id/4595/

Older Posts »

Create a free website or blog at WordPress.com.