Kumpulan Skripsi & Artikel Jurnal Ilmiah

2009

Pengaruh aspek sosial budaya pada interior hotel Niagara di Lawang

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : SANJAYA, FERRY

Pengaruh Aspek Sosial Budaya Pada Interior Hotel Niagara di Lawang adalah sebuah penelitian yang mengambil perspektif kurun waktu fase kolonial (1900- 1942), fase dimana bangunan hotel Niagara mulai didirikan. Pada fase ini terdapat sistim pelapisan sosial yang melahirkan adanya persaingan antar individu untuk mendapatkan sebuah penghargaan atau pengakuan kehormatan sosial di kalangan masyarakat lapisan tengah (Cina). Bentuk interaksi persaingan (kompetitif) masyarakat Cina guna mendapatkan penghargaan atau pengakuan kehormatan sosial itu dihadapinya dengan mengacukan aspek kehidupannya pada golongan masyarakat lapisan atas, yaitu Eropa. Demikian pula dengan Liem Sian Yu yang merupakan bagian dari masyarakat lapisan tengah (Cina) sebagai subyek dalam perancangan bangunan hotel Niagara, apa yang dialaminya dalam berinteraksi, yaitu bersaing dalam mendapatkan sebuah ‘penghargaan’ atau pengakuan kehormatan aktualisasi dirinya dari masyarakat di sekitarnya pada masa itu, diwujudkan pada pengacuan gaya, pemilihan dan pengolahan bahan, pemakaian prinsip desain keseimbangan pada salah satu wujud benda hasil kebudayaan milik Liem Sian Yu, yaitu kondisi fisik desain ruang dalam bangunan hotel Niagara.

Keyword : influence, culture, social aspect, colonial phase, interior, hotel niagara

Hotel and cottage resort in Labuhan Bajo, Nusa Tenggara Timur

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : SYATRIADI, JERRY

Hotel dan Cottage Resort di Labuhan Bajo, Nusa Tenggara Timur ini merupakan proyek komersial milik swasta yang bergerak dalam bidang pariwisata. Proyek ini ditujukan untuk mengakomodasi pariwisata daerah, membangkitkan arsitektur tradisional setempat, dan mengharmoniskan diri dengan lingkungan alam sekitar yang unik. Pengolahan arsitektur yang menerapkan budaya dan sosial setempat mengambil konsep Trisimbol pada arsitektur eksteriornya dan Dwisimbol pada arsitektur interiornya. Sedangkan konsep arsitektur penggunanya adalah dinamis, dengan bentuk dasar segi delapan yang diambil dari pola desa tradisional setempat. Fasilitas utama meliputi kamar hotel, cottage, kolam renang, restoran, fitness, spa, ruang serbaguna, taman bermain, lapangan tennis, dan voli pantai.

Keyword : hotel, cottage, resort, social, culture, architecture, facilities, labuhan bajo

Sumber : http://repository.petra.ac.id/4338/

Perkembangan penataan interior rumah Betang suku Dayak ditinjau dari sudut budaya (studi kasus rumah tradisional di Palangkaraya Kalimantan Tengah)

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : , ASTERIA

Perkembangan pada rumah Betang mode! lama ke rumah model baru dilihat dari sudut budaya meliputi: bentuk rumah secara arsitektural, pola ruang, tata letak dan peletakan ruang, elemen ruang, elemen dekoratif dan tata kondisional. Budaya dalam masyarakat menjadi tolak ukur dari penelitian untuk mengetahui adanya perkembangan yang terjadi dengan mengetahui bagaimana sistem religi mempengaruhi adat istadat dan cara pandang yaiig ada di masyarakat, sistem organisasi masyarakat yang mengatur interaksi sosial dimana terjalin satu hubungan antar masyarakat, sistem mata pencaharian guna pemenuhan kebutuhan hidup, teknologi peralatan sebagai penunjang pemenuhan kebutuhan hidup, dan kesenian untuk mengekspresikan diri sehingga dapat di ambil suatu kesimpulan bahwa perkembangan itu terjadi dari kehidupan yang sederhana menjadi kehidupan yang lebih kompleks. Hal itu terlihat dari perubahan ukuran dan bentuk bangunan, bahan yang digunakan baik itu pada bangunan maupun perabatan, serta peralatan penunjang kehidupan sehari-hari pada rumah suku Dayak Kalimantan Tengah.

Keyword : development, interior design, betang house of dayak ethnic group, culture

Pusat pengobatan tradisional cina di Surabaya

Filed under: Uncategorized — Tags: , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : CHRISTIANI, ALISSA

Pusat Pengobatan Tradisional Cina di Surabaya ini adalah sebuah pusat pengobatan yang memiliki konsep baru dalam pengobatan. Konsep baru yang dihadirkan adalah pusat pengobatan dengan cara tradisional Cina. Konsep baru ini dihadirkan untuk memberikan pandangan pada masyarakat sebagai salah satu pengobatan alternatif selain pengobatan barat. Bangunan didekati dari sisi budaya. Bagaimana budaya ( karakter bangunan Cina ) untuk pusat pegobatan sehingga dapat memberikan suasana Cina didalamnya

Keyword : traditional chinese medicine, culture

Sumber : http://repository.petra.ac.id/4539/

Museum sejarah dan budaya tiga kerajaan Jawa Timur di Surabaya

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : CENDIYAWATI, YENI

Penulisan laporan perancangan Tugas Akhir ini merupakanpertanggung- jawaban atas proses perancangan proyek tugas akhir berjudul Museum Sejarah dan Budaya Tiga Kerajaan Jawa Timur di Surabaya yang dikerjakan selama 1 (satu) semester. Museum ini merupakan fasilitas pendidikan dan rekreasi yang memberikan infomasi mengenai kebudayaan dan sejarah yang ada di Jawa Timur. Tujuan penulisan laporan perancangan adalah memberikan laporan lengkap tentang bagaimana penulis menyelesaikan tahap-tahap perancangan yang dituangkan dalam bab Pendahuluan, Perancangan Tapak, dan Perancangan Bangunan. Konsep dasar yang digunakan adalah ?Arsitektur Jawa? dengan mengambil bentuk bangunan dan atap dari arsitektur tradisional candi di Jawa Timur. Dan konsep dasar tersebut dipresentasikan ke dalam bentukan arsitektur, penataan massa, pengaturan ruang, penampilan bangunan, dan lain-lain.

Keyword : museum, buildings, design, culture, east java, surabaya, empire

Sumber : http://repository.petra.ac.id/1009/

The Sociolinguistic study on linguistic repertoire of one Wassu family in Haruku Island

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : GERALD, VICTORIO

This thesis is an effort to build a better understanding of language as a part of culture of the people of Mollucas, particularly the indigenous people of Wassu in the island of Haruku, through the sociolinguistic study. The purpose of the study is to explore their linguistic repertoire in order to find out anv code variety included in the linguistic repertoire of the natives, and any social factor that influences their choice of certain variety to be used in a social context of speaking. Hudson’s theory of domains, together with the theory of social factors and social dimensions introduced by Holmes, are used in order to analyze the data Approach of conducting the study is a qualitative approach. Recorded utterances of speech of the natives and notes of applications of the varieties in any context other than speech contexts, such as watching TV or listening radio programs, and listening to a priest in Sundays services in church, become the sources of the data. The informants are a family of the indigenous people of Wassu, consists of a grandfather, a grandmother, a mother, an uncle, and an aunt, who were born and raised there. The data is classified according to the users. Every variety used is analyzed by applying the theory of domains. Holmes’ theory is used to find the influence of the social context to every user’s decision of choosing which variety to be used. The analysis shows that the linguistic repertoire of the indigenous people of Wassu consists of the Haruku language, the Ambonesse Malay sub-dialect of Wassu, the Ambonesse Malay, and the Indonesian language. The Haruku language, spoken by older people, serves as a formal language of traditional affairs and also an informal language of solidarity. The Ambonesse Malay sub-dialect of Wassu derived from the Ambonesse Malay. They have similarities in many ways eventhough there can be still some differences in structure and vocabulary. These two varieties spoken by the whole generations in Wassu, and become informal varieties of daily interactions. The natives use the Ambonesse Malay sub- dialect of Wassu to fellow villagers, and sometimes to outsiders of this speech community. The Ambonesse Malay is used when they interact with the outsiders. The Indonesian language becomes the language of formality and never spoken in daily interactions. It is used in the Sunday services, in schools and government office.

Keyword : sociolinguistics, language, culture, mollucas, haruku island, repertoire, haruku language

Sumber : http://repository.petra.ac.id/4570/

Model komunikasi antarbudaya para pedagang di Pusat Kya-Kya Kembang Jepun (PK3J) Surabaya

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : AGUSTIN, LISA

Di Surabaya, kawasan yang dikenal sebagai kawasan Pecinan adalah kawasan Kembang Jepun. Kawasan ini merupakan tempat berkumpulnya pedagang dari bermacam-macam etnis. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui model komunikasi antarbudaya dari kelompok etnis yang berbeda, serta model komunikasi yang mereka gunakan dalam interaksi sehari-hari di Pusat Kya-Kya Kembang Jepun (PK3J) Surabaya. Metodologi yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif melalui in depth interview dengan para narasumber yang diambil menggunakan theoritical sampling dengan teknik snowballing. Hasil dari penelitian ini dideskriptifkan melalui pemaparan berbagai informasi dari temuan selama penelitian. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa model komunikasi antarbudaya para pedagang di Pusat Kya-Kya Kembang Jepun dapat berjalan dengan efektif karena antara pedagang yang satu dengan yang lainnya saling menyesuaikan diri. Selain itu, hubungan diantara mereka tetap dapat terjalin harmonis karena adanya sikap saling pengertian antar sesama pedagang. Hal ini dapat terlihat dari kemampuan tiap pedagang untuk menerima setiap perbedaan yang ada di antara mereka.

Keyword : kya kya center kembang jepun, multicultural communication model, culture, language

Sumber : http://repository.petra.ac.id/1028/

Desain grafis gaya pop di Indonesia: studi kasus sampul kaset album rekaman musisi Indonesia produksi PT. Aquarius Musikkindo periode 1999-2004

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : MILKA, REBECCA

Laporan ini merupakan studi kasus terhadap sampul kaset album rekaman musisi Indonesia, yang dipilih sebagai obyek penelitian untuk melihat apakah ada pengaruh dari desain grafis gaya pop yang berkembang di Eropa dan Amerika di dalamnya. Penelitian didasarkan pada pembahasan pengaruh budaya pop dalam bidang seni dan desain, yang kemudian dikhususkan pada bidang desain grafis.

Keyword : commercial, graphic art, visual communication, pop, culture, design, music

Sumber : http://repository.petra.ac.id/5543/

Intercultural communication findonet 2004/2005

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : MULLER, CAROLYN

The major purpose of this research is to give additional information for starting Dutch companies to maintain a good relationship with Indonesian entrepreneurs. Cultural differences are often constraints in an intercultural business relationship and cost a great ordeal to overcome. People almost never say what they do nor do what they say, and therefore it is from utmost importance to pay attention to body language of the business opponent. This report contains useable tips and suggestions to understand the Indonesian business partner, without fully understanding of Bahasa Indonesia.

Keyword : intercultural communication, import and export, non-verbal communication, culture

Sumber : http://repository.petra.ac.id/1153/

Analisa budaya dan behavioral intentions mahasiswa pada penilaian service quality bidang akademik Universitas Kristen Petra

Filed under: Uncategorized — Tags: , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : YUVITA;, INGGRID

Penelitian ini mencoba untuk menjelaskan analisa budaya dan keinginan berperilaku mahasiswa pada penilaian kualitas layanan jasa bidang akademik Universitas Kristen Petra. Budaya ditinjau dari power distance, uncertainty avoidance, individualism, masculinity dan term orientation. Keinginan berperilaku ditinjau dari loyalty, propensity to switch, pay more, external response dan internal response. Sedangkan kualitas layanan ditinjau dari tangible, responsiveness, reliability, emphaty dan assurance. Menggunakan path analysis, hasil penelitian menunjukkan kualitas layanan dapat dinilai melalui keinginan berperilaku sedangkan budaya tidak signifikan sebagai dasar penilaian karena cenderung seragam.

Keyword : culture, behavioral intentions, service quality

Sumber : http://repository.petra.ac.id/4705/

Older Posts »

Create a free website or blog at WordPress.com.