Kumpulan Skripsi & Artikel Jurnal Ilmiah

2009

Mesin pengering gabah dengan tenaga matahari

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : CAHYONO, CLERYEL

Beras merupakan makanan pokok masyarakat indonesia. Beras berasal dari gabah. Gabah yang akan digiling menjadi beras harus dikeringkan terlebih dahulu. Tujuannya agar tidak mudah pecah saat digiling. Pengeringan gabah dilakukan secara alami atau buatan. Pengeringan alami yang banyak digunakan masyarakat pedesaan adalah pengeringan gabah dengan tenaga matahari. Pengeringan gabah dilakukan dengan kolektor matahari plat datar untuk mempersingkat waktu pengeringan. Dinding kotak pengering dibuat dari kaca untuk mengurangi heat loss dan meningkatkan kinerja dari kolektor.

Keyword : unshelled paddy, solar energy, drying, flat plate collector

Sumber : http://repository.petra.ac.id/5056/

Desain ruang pengeringan cat mobil dengan menggunakan energi radiasi matahari

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : PRASETIO, HERMAN

Proses pengeringan cat mobil dengan cara tradisional, yaitu menggunakan sinar matahari memerlukan waktu ? 4-5 hari dan hasil dari pengecataan kotor. Bila menggunakan pengeringan oven yang panasnya dari tenaga bahan bakar fase, maka suatu saat bahan bakar fase tersebut akan habis. Untuk mengatasi masalah tersebut pada tugas akhir ini, dirancang sistem ruang pengering cat mobil menggunakan kolektor tenaga surya. Perencanaan system pengering ini menggunakan sistem pengering tenaga surya pemanasan tidak langsung dengan sirkulasi paksa-siklus terbuka, bertujuan mengeringkan cat mobil. Medium pengering adalah udara panas yang dialirkan secara paksa dengan sebuah turbine ventilator. Temperatur ruang inlet ruang pengering adalah 65 derajat celcius. Udara panas ini bersal dari kolektor plat datar. Dari percobaan alat diperoleh bahwa pengeringan dengan menggunakan kolektor surya lebih cepat dari pada penjemuran alami dan hasil pengecataan lebih bagus. Sedangkan bila dibandingkan dengan pengering oven, maka biaya yang dikeluarkan lebih murah bila menggunakan pengeringan dengan kolektor surya.

Keyword : cars paints, drying, temperature, flat plate solar collector

Sumber : http://repository.petra.ac.id/5057/

Perencanaan mesin pengering adonan kerupuk lempeng dengan kapasitas 20 kg/jam

Filed under: Uncategorized — Tags: , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : INDARTI, RENNY

Proses pengeringan adonan kerupuk lempeng dengan cara tradisional, yaitu menggunakan sinar matahari memerlukan waktu pengeringan 2-3 hari, kehigenisan dari kerupuk lempeng sangat kurang serta areal yang diperlukan pada proses pengeringan kerupuk cukup luas. Untuk mengatasi masalah tersebut pada tugas akhir ini, dirancang sistem pengering mekanis dengan kapasitas 20 kg adonan kerupuk lempeng. Perencanaan sistem pengering mekanis untuk adonan kerupuk lempeng menggunakan sistem kontinu., bertujuan untuk mengeringkan adonan kerupuk lempeng dari kadar air 33% (basis kering) sampai 12 % (basis kering). Medium pengering adalah udara panas yang dialirkan secara paksa dengan sebuah fan rnengenai adonan kerupuk lempeng. Temperatur inlet dari udara panas adalah 80?C dan temperatur outlet adalah 70?C. Udara panas ini berasal dari heat exchanger. Pada perancangan alat pengering ini digunakan prinsip kelestarian energi dan kelestarian massa untuk menganalisa kalor yang dibutuhkan, analisis perpindahan massa, ukuran geometri dari heat exchanger, kapasitas fan, dan konsumsi bahan bakar.

Keyword : chips, drying, moisture content

Perencanaan alat pengering briket makanan sapi kapasitas 400kg/jam

Filed under: Uncategorized — Tags: , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : , LUSIA

Untuk menghasilkan pakan ternak yang bermutu tinggi diperlukan proses pengeringan, karena sebelum dikeringkan, pakan tersebut dalam kondisi basah akibat disemprot dengan urea. Untuk pengeringan pakan ternak tersebut, maka dirancang suatu alat pengering pakan ternak berkapasitas 400 kg/jam. Pada perancangan alat pengering ini digunakan prinsip kelestarian energi dan kelestarian massa untuk menganalisa kalor yang dibutuhkan, analisis perpindahan massa, jumlah dan panjang pipa pada heat exchanger, kapasitas fan dan konsuinsi bahan bakar. Dari hasil analisa diperoleh bahwa kalor yang dibutuhkan untuk menurunkan kadar air dari 50%-60% (basis kering) menjadi 15% (basis kering) sebesar 2843,48 W. Jumlah pipa pada HE sebanyak 33 pipa yang memiliki panjang 250 mm. Dari katalog fan yang tersedia dipilih axial fan tipe FN 1250 dan tipe CCM12038B220L. Masing-masing untuk sisi gas panas tipe CCM 12038B220L dan sisi udara yang masuk ke oven tipe FN 1250.

Keyword : forage, drying, moisture air

Sumber : http://repository.petra.ac.id/1232/

Perancangan mesin pengering ikan dengan menggunakan kolektor surya plat datar

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : ALWI, SURYANTY

Proses pengeringan ikan dengan cara tradisional, yaitu menggunakan sinar matahari memerlukan waktu pengeringan ? 3 hari, perlu proses pembalikan dan kehigienisan dari ikan sangat kurang. Untuk mengatasi masalah tersebut pada tugas akhir ini, dirancang sistem pengering menggunakan kolektor surya plat datar untuk 15 kg ikan. Perencanaan sistem pengering ini menggunakan sistem pengering tenaga surya pemanasan tidak langsung dengan sirkulasi paksa-siklus terbuka, bertujuan untuk mengeringkan ikan dari kadar air 89,99 % (basis kering) sampai 7 % (basis kering). Medium pengering adalah udara panas yang dialirkan secara paksa dengan sebuah fan mengenai ikan. Temperatur inlet ruang pengering adalah 70 0 C. Udara panas ini berasal dari kolektor surya plat datar. Dari percobaan alat diperoleh kadar air ikan 7,33 % (basis kering) sedangkan ikan yang dikeringkan secara alami 23,33%. Penguapan kelembaban dari ikan pada pengeringan dengan kolektor surya terjadi lebih cepat dibandingkan penjemuran yang memakan waktu sampai 3-4 hari di bawah kondisi cuaca cerah.

Keyword : fish, drying, moisture content, flat plate solar collector

Sumber : http://repository.petra.ac.id/3297/

Siklus drying wetting pada campuran fly ash dengan tanah liat

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : ARIEWIBOWO;, BIMO

Perubahan cuaca yang terjadi, terutama di negara yang memiliki 2 musim seperti di Indonesia, akan menimbulkan dampak terutama dalam segi konstruksi. Terutama pada suatu gedung atau bangunan yang dibangun di atas tanah lempung yang tidak stabil akan banyak menimbulkan masalah. Selain itu, banyaknya jumlah dari limbah batu bara yaitu fly ash akan memberikan ide pada beberapa kalangan untuk dapat memanfaatkannya, terutama dalam bidang konstruksi. Banyak penelitian yang menggunakan fly ash ini, tetapi disini bahan tersebut akan digunakan sebagai bahan utama. Dengan melalui percobaan pengeringan (drying) dan pembasahan (wetting), dengan sampel disturbed di laboratorium, diharapkan akan dapat dipelajari perilaku sudut geser dan kohesi dari campuran tanah liat dengan fly ash, yaitu yang berhubungan dengan tegangan air pori negatif. Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa dalam kondisi drying, tanah mengalami peningkatan sudut geser yang lebih besar dibandingkan tanah dalam keadaan wetting. Dimana semakin besar kadar air (Wc) yang dikandung oleh tanah, sudut geser tanah tersebut semakin kecil. Hal ini dapat dilihat dari besarnya nilai sudut geser (o ) dari sample tanah yang dikeringkan lebih besar dibandingkan dengan nilai o dari sample tanah yang dibasahi.

Keyword : drying, wetting, fly ash, clay, angle of friction , cohesi, sunction

Sumber : http://repository.petra.ac.id/3438/

Perancangan mesin pengering cengkeh

Filed under: Uncategorized — Tags: , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : E, ANTONIO

Cengkeh perlu dikeringkan sebelum digunakan sebagai bahan baku industri. Pengeringan cengkeh masih sering dilakukan secara alami. Oleh karena itu pada tugas akhir ini dirancang suatu mesin pengering cengkeh untuk meminimalkan kekurangan pada proses pengeringan secara alami. Mesin pengering cengkeh ini berkapasitas 100 kg dengan waktu pengeringan 12 jam dan menggunakan tempurung kelapa sebagai bahan bakar. Dari hasil analisa maka kalor yang dibutuhkan sebesar 3,88kW supaya kadar air cengkeh turun dari 70,3% (basis basah) menjadi 10% (basis basah), sedangkan untuk fluida pemanas digunakan udara panas dengan temperatur 65?C. Pipa pada penukar kalor berukuran 1in sebanyak 46 buah, penukar kalor menggunakan jenis staggered. Konsumsi bahan bakar sebesar 2,41 kg /jam. Fan memiliki kapasitas 805,05CFM dengan tekanan statik 15,29mmH2O.

Keyword : clove, drying, moisture content

Sumber : http://repository.petra.ac.id/3767/

Perancangan sistem ruang pengering rumput laut

Filed under: Uncategorized — Tags: , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : SUTANTO, YUDI

Rumput laut sebelum diolah lebih lanjut mengalami proses pengeringan terlebih dahulu. Pengeringan yang selama ini digunakan adalah pengeringan secara tradisional oleh petani. Tetapi sistem pengeringan ini akan terhambat jika pada musim penghujan sehingga mengakibatkan proses produksi dan ekspor rumput laut pun terhambat. Karena permasalahan itulah maka dirancang suatu sistem pengering buatan dengan kapasitas 1 ton selama 8 jam. Bahan bakar yang digunakan adalah minyak tanah sebesar 25 liter/jam. Penukar kalor yang digunakan terbuat dari aluminium dengan susunan pipa staggered. Udara panas masuk ruang pengering 60?C. Kebutuhan udara pengering adalah 7,85 m 3 /s dan tekanan statiknya sebesar 565,08 N/m 2 .

Keyword : seaweed, drying, moisture content

Sumber : http://repository.petra.ac.id/3770/

Variasi sudut geser tanah akibat siklus drying wetting pada tanah pasir kelempungan

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : HENSA, RANTO

Perubahan cuaca dari hujan ke panas maupun sebaliknya mengakibatkan tanah pasir kelempungan menjadi tidak stabil karena mengalami kekeringan yang menyebabkan retak – retak (shrinkage) atau basah hingga mengakibatkan pengembangan (swelling) yang cukup besar. Apabila suatu gedung atau bangunan dibangun di atas tanah lempung yang tidak stabil tersebut, maka akan timbul masalah. Melalui percobaan pengeringan dan pembasahan dengan sampel disturbed di laboratorium, akan dapat dipelajari perilaku tegangan geser tanah dari berbagai macam kondisi tanah pasir kelempungan, untuk dapat mendekati perilaku tanah pasir kelempungan sesungguhnya di lapangan. Dari percobaan yang telah dilakukan, disimpulkan bahwa dalam kondisi drying tanah mengalami peningkatan tegangan geser yang lebih besar dibandingkan tanah dalam keadaan wetting. Dimana semakin besar kadar air (Wc) yang dikandung oleh tanah, tegangan geser tanah tersebut semakin kecil. Hal ini dapat dilihat dari besarnya nilai sudut geser (?) dari sample tanah yang dikeringkan lebih besar dibandingkan dengan nilai ? dari sample tanah yang dibasahi.

Keyword : soil, wetting, drying, clay sand, shear stress, angle of friction

Sumber : http://repository.petra.ac.id/4583/

Variasi tegangan geser tanah saat mengalami drying-wetting pada tanah pasir kelempungan kondisi inisial Kadara Air Optimum (OMC)

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : PRAMANA;, TEDDY

Perubahan cuaca dari hujan ke panas maupun sebaliknya mengakibatkan tanah pasir kelempungan menjadi tidak stabil karena mengalami kekeringanyang menyebabkan retak-retak (shrinkage) atau basah sehingga mengakibatkan pengembangan (swelling) yang cukup besar. Apabila suatu gedung atau bangunan dibangun di atas tanah lempung yang tidak stabil tersebut, maka akan timbul masalah. Melalui percobaan pengeringan dan pembasahan dengan sampel disturbed di laboratorium, akan dapat dipelajari perilaku tegangan geser tanah dari berbagai macam kondisi tanah pasir kelempungan, dimana tanah tersebut pada penelitian ini adalah biasa dipakai untuk embankment. Dari percobaan yang telah dilakukan, disimpulkan bahwa dalam kondisi drying tanah mengalami peningkatan tegangan geser yang lebih besar dibandigkan tanah dalam keadaan wetting. Dimana semakin besar kadar air (Wc) yang dikandung oleh tanah, tegangan geser tanah tersebut semakin kecil. Hal ini dapat dilihat dari besarnya nilai sudut geser (?) dari sampel tanah yang dikeringkan lebih besar dibandingkan dengan nilai ?dari sampel tanah yang dibasahi.

Keyword : wetting, drying, clay sand, shear stress, angel of friction, soil

Sumber : http://repository.petra.ac.id/4626/

Blog at WordPress.com.