Kumpulan Skripsi & Artikel Jurnal Ilmiah

2009

Studi perencanaan sistem operasi penyulang 20 kv akibat penambahan tiga GIS baru di PLN APJ Surabaya Selatan

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : SANTOSO, YUDI

Dengan penambahan tiga GIS baru menyebabkan sistem operasi penyulang berubah, karena penyulang yang semulanya panjang dipotong menjadi pendek. Hal ini menyebabkan voltage drop semakin kecil demikian juga losses-nya, karena jarak antar penyulang semakin pendek. Tiga GIS baru yang ditambahkan adalah GIS Wonokromo, GIS Simpang, GIS Kupang. Dengan penambahan tersebut maka voltage drop rata-rata turun dari 5,6% menjadi 3,75% dan losses rata-rata turun dari 1,97% menjadi 1,26%. Dengan Voltage Drop yang lebih kecil pada jaringan Penyulang, maka kontinuitas pendistribusian listrik kepada konsumen dapat terlayani lebih baik.

Keyword : 20 kV feeder, substation, electric power, distribution, transmission

Sumber : http://repository.petra.ac.id/3953/

Studi perencanaan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang menggunakan debu tembakau sebagai bahan bakar pembangkit energi listrik

Filed under: Uncategorized — Tags: , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : SUMINGTO, IWAN

Debu tembakau merupakan hasil sampingan yang berlimpah dari pabrik rokok yang sampai saat ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Dari hasil analisa debu tembakau secara laboratoris, diketahui bahwa debu tembakau memiliki nilai kalori yang cukup besar dan dapat dijadikan sebagai bahan bakar alternatif untuk pembangkitan energi listrik. Debu tembakau yang dijadikan bahan bakar haruslah dipilah dan tidak mengandung plastik, sebab plastik bila dibakar akan menghasilkan gas beracun. Dengan suplai debu tembakau sebagai bahan bakar sebanyak 35 ton per hari dan pembangkit energi listrik jalan kontinu, maka akan dihasilkan energi listrik sebesar 1500 kW.

Keyword : electric power, steam power plant

Sumber : http://repository.petra.ac.id/3925/

Evaluasi perancangan auxiliary equipment pada PLTU 25 MW di PT Adiprima Suraprinta Gresik

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : DARMAWAN, SETIADI

Pada masa sekarang ini banyak industri yang mempertimbangkan untuk membangun pembangkit listrik sendiri sebagai alternatif sumber tenaga listrik selain PLN. Salah satu jenis pembangkit tenaga listrik yang banyak digunakan adalah pembangkit listrik tenaga uap atau PLTU. Peralatan yang terdapat didalam PLTU ada peralatan utama dan peralatan bantu. Peralatan utama terdiri dari boiler, turbin, dan generator. Dan peralatan bantunya berupa pompa-pompa dan fan-fan yang mendukung peralatan utama. Peralatan-peralatan itu semua biasa disebut dengan auxiliary equipments. Auxiliary equipments yang digunakan pada PLTU PT. Adiprima Suraprinta Gresik membutuhkan daya sebesar 2.36 MW yaitu 10 % dari kapasitas output genarator sebesar 25 MW. Dengan daya auxiliary equipments 10 % dari 25 MW maka PLTU itu termasuk effisien. Dengan adanya PLTU ini diharapkan akan mengurangi jumlah listrik yang dibeli oleh PT. Adiprima Suraprinta Gresik.

Keyword : auxiliary equipment, efficiency, electric power, distribution

Sumber : http://repository.petra.ac.id/3968/

Pengaruh perubahan arus saluran terhadap tegangan tarik dan andongan pada sutet 500 KV di zona Krian

Filed under: Uncategorized — Tags: , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : CHANDRA, VICKY

Saluran transmisi udara umumnya menggunakan konduktor jenis ACSR (Alumunium Conductor Steel Reinforced) yang memiliki batas temperatur kerja yang diizinkan sebesar 90 ?C. Mempertimbangkan peningkatan kebutuhan tenaga listrik yang pesat akhir-akhir ini, maka usaha untuk meningkatkan kapasitas saluran transmisi dilakukan dengan mengoptimalkan kapasitas hantaran arus dari saluran transmisi yang telah ada. Permasalahan utama dari peng-optimalan saluran transmisi tersebut adalah tegangan tarik dan andongan yang timbul pada konduktor tersebut menjadi lebih besar, oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik perubahan arus saluran terhadap tegangan tarik dan andongan konduktor, dengan demikian diharapkan dari hasil penelitian ini akan berguna untuk membangun struktur konstruksi saluran transmisi yang sesuai dengan sifat dari konduktor tersebut. Sebagai model simulasi digunakan saluran transmisi tegangan ekstra tinggi 500 kV jalur Paiton-Krian dengan data-data konduktor ACSR yang sesuai dengan yang ada di lapangan. Temperatur konduktor dihitung berdasarkan persamaan keseimbangan panas. Metode Ruling Span digunakan untuk menentukan panjang span equivalen. Sementara itu metoda Catenary digunakan untuk menghitung tegangan tarik dan andongan konduktor tersebut. Berdasarkan hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dengan adanya perubahan arus saluran dari 10 Ampere menjadi 850 Ampere mengakibatkan terjadinya peningkatan temperatur konduktor sebesar 125.94 % dan penurunan tegangan tarik sebesar 36.38 % serta terjadi peningkatkan pada andongan sebesar 26.82 %.

Keyword : transmission, acsr (aluminium conductor steel reinforced), electric power

Sumber : http://repository.petra.ac.id/3931/

Studi perbandingan penggunaan Directional Ground Relay (67 G) dengan Ground Fault Relay (51 N) PLN distribusi Jatim

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : , YUDIYONO

Penyulang Pondok Chandra merupakan salah satu penyulang 20 kV yang dicatu dari Gardu Induk (GI) Rungkut menggunakan transformator daya 50 MVA. Panjang penyulang Pondok Chandra 15,158 kms, dengan panjang Saluran Kabel Tegangan Menengah (SKTM) 0,313 kms dan Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM) 14,845 kms. Gangguan yang paling banyak terjadi pada saluran udara adalah gangguan hubung singkat 1 fasa ke tanah yang disebabkan pohon dan petir. Dengan penerapan metode pentanahan netral transformator daya melalui tahanan tinggi 500 ohm, didapatkan arus gangguan maksimum pada penyulang Pondok Chandra sebesar 25 A. Directional Ground Relay (DGR) bekerja berdasarkan komponen tegangan, komponen arus dan sudut fasa gangguan yang timbul akibat ketidakseimbangan arus dan tegangan gangguan pada saat terjadinya gangguan hubung singkat 1 fasa ke tanah, sedangkan Ground Fault Relay (GFR) bekerja berdasarkan arus (Io) gangguan yang timbul pada saat terjadi gangguan hubung singkat 1 fasa ke tanah. Setting DGR pada penyulang Pondok Chandra adalah Vo = 5 Volt, Io = 2 A dan waktu = 0,35 detik. Penggunaan DGR (67 G) dan GFR (51 N) terletak dari penerapan disistem pola pentanahan, sesuai SPLN 52 – 3 : 1983 tentang Pola Pengamanan Sistem bagian III Sistem Distribusi 6 kV dan 20 kV, ditetapkan rele pengaman 1 fasa ke tanah pada penyulang harus menggunakan DGR untuk high resistance dan GFR dianjurkan tidak dipakai.

Keyword : directional ground relay, ground fault relay, transformer, electric power, protective relay

Sumber : http://repository.petra.ac.id/3971/

Studi perencanaan setting ATS (Automatic Transfer Switch) penyulang 1 dan penyulang 2 terhadap optimalisasi pembebanan pelanggan potensial di PLN distribusi Jawa Timur

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : AGUSTIN, HENDY

Dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 5 %, Jawa Timur memerlukan pertumbuhan listrik sebesar 2 x 5 % = 10 %. Dengan semakin meningkatnya kawasan – kawasan Industri yang ada di Propinsi Jawa Timur maka dituntut suatu keandalan didalam supply akan listrik terutama di sisi pelanggan. Salah satu cara meningkatkan keandalan tersebut adalah dengan menggunakan Cubicle Double Incoming. Perencanaan untuk mengubah setting pada Penyulang satu ke Penyulang dua diperlukan untuk mencapai efektifitas yang lebih baik, hal ini dikarenakan dengan menggunakan setting Penyulang 1 dan Penyulang 2 maka pelanggan hanya akan mengalami padam sekali saja untuk gangguan satu kali Load Faktor dibutuhkan untuk setting Penyulang 1 dan Penyulang 2 sehingga waktu gangguan tidak ada masalah jika sewaktu-waktu akan pindah di suatu penyulang. Load Faktor Penyulang Siwalankerto adalah 0.3519 sedangkan Penyulang Jemursari adalah 0.4665. Dengan penerapan setting Penyulang 1 dan 2 diperoleh bahwa optimalisasi keandalan Penyulang Siwalankerto menjadi lebih tinggi, yaitu dari SAIDI 6.7364 jam / tahun dan SAIFI 1.026 kali / tahun menjadi SAIDI 6.2605 jam / tahun dan SAIFI 0.954 kali / tahun. Sedangkan untuk Penyulang Jemursari yaitu dari SAIDI 3.7402 dan SAIFI 1.026 menjadi SAIDI 2.808 dan SAIFI 0.954. Standar SAIDI adalah 21 jam / tahun sedangkan SAIFI-nya adalah 3.2 kali / tahun.

Keyword : automatic transfer switch, cubicle double incoming, said, saifi, electric power, distribution, transformer

Sumber : http://repository.petra.ac.id/3935/

Studi penerapan Demand Side Management (DSM) dengan lampu hemat energi pada pemakaian waktu beban puncak PLN APJ Surabaya Selatan

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : ARIESTYA, WILLY

Demand Side Management merupakan kegiatan mengelola pemakaian energi listrik di sisi pelanggan agar menggunakan listrik secara efisien sehingga dapat memberikan manfaat bagi pelanggan dan PLN. Penerapan Demand Side Management sangat tepat bagi pelanggan PLN terutama pelanggan rumah tangga khususnya golongan R1 yang mempunyai efisiensi yang sangat besar. Sebagian besar golongan R1 memakai lampu pijar yang mempunyai efisiensi yang sangat rendah, oleh karena itu perlu disosialisasikan lampu hemat energi. Penghematan yang terjadi bila lampu pijar diganti dengan lampu hemat energi pada tahun 2002 sebesar 52,5 MW atau 9,6 % dari beban puncak Surabaya Selatan tahun 2002. Penghematan yang terjadi bila lampu pijar diganti dengan lampu hemat energi pada tahun 2003 sebesar 54,2 MW atau 13,3 % dari beban puncak Surabaya Selatan tahun 2003. Penghematan yang terjadi bila lampu pijar diganti dengan lampu hemat energi pada tahun 2004 sebesar 55,9 MW atau 11,8 % dari beban puncak Surabaya Selatan tahun 2004. Penghematan yang terjadi pada tahun 2003 sebesar Rp. 6.231.645.000 atau setara dengan penundaan pembangunan pembangkit berkapasitas ? 6 MW (asumsi biaya investasi tiap 1 MW sebesar 1 juta US$) Pada range 2002-2004 efisiensi yang dihasilkan per tahunnya sebesar kurang lebih 60 MW. Ini setara dengan 6 pembangkit dengan kapasitas 10 MW dan lama pembangunan 2 tahun per unitnya dengan nilai investasi mencapai 10 milyar rupiah.

Keyword : demand side management, lamp, electric power, tranmission, distribution

Sumber : http://repository.petra.ac.id/3973/

Studi tentang kualitas daya listrik di PT. Sorini Towa Berlian Corporation

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : , HADIANTO

Permasalahan kualitas energi listrik smakin mendapat perhatian akhir-akhir ini, baik dari sisi pelanggan maupun dari sisi pengelola sistem kelistrikan. Salah satu aspek dari penurunan kualitas energi listrik adalah efisiensi energi. Dengan demikian kualitas energi listrik merupakan salah satu parameter yang perlu dipertimbangkan dalam suatu pabrik. Kualitas daya di suatu pabrik ditentukan oleh arus, tegangan, frekuensi, harmonisa, faktor daya dan pengetanahan (grounding) di pabrik tersebut. Kualitas daya listrik dapat dikatakan baik jika arus, tegangan, dan frekuensi yang terdapat di pabrik selalu konstan. Tetapi pada kenyataanya arus, tegangan dan frekuensi di pabrik tidak selalu bernilai konstan, tergantung pada peralatan listrik yang dipakai dan pengaturan sistem distribusi listrik pabrik. Pengumpulan data dilakukan dengan cara pengamatan dan pengukuran langsung di lapangan, serta penjelasan dari kepala maintenance di PT. Sorini Towa Berlian Corporation. Setelah itu dilakukan analisa terhadap data yang telah dikumpulkan. Analisa itu dilakukan untuk mengetahui apakah besaran-besaran yang ada telah sesuai dengan standar yang diijinkan, yaitu tegangan: 330.6-402.8 Volt, frekuensi: 49.7-50.3 Hz, %VTHD: 5%, %ITHD tergantung pada arus beban dan arus hubung singkat dari titik pengukuran yang ada, arus grounding maksimum 3 mA dan faktor daya ( cos j) ? 0.85. Dari hasil analisa yang telah dilakukan dapat dikatakan bahwa kualitas daya listrik di PT. Sorini Towa Berlian Corporation secara keseluruhan adalah baik (masih dalam batas standar yang diinginkan). Walaupun ada dua SDP yang faktor dayanya berada dibawah standar yang diijinkan yaitu SDP Starch Feeder (0.76) dan SDP Hydrogen MCC SP-14 (0.83). Oleh karena itu perlu dilakukan perhitungan ulang besar daya reaktif kapasitor bank pada MDP Back Up dan MDP No Back Up.

Keyword : electric power, distribution, sorini towa berlian, quality

Sumber : http://repository.petra.ac.id/3936/

Studi simulasi hybrid active filter untuk meredam harmonisa ada vVacuum casting induction furnace dengan menggunakan program PSim

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : KHANDY, KHRISTIAN

Beban non linier seperti diode atau thyristor rectifier ( vacuum casting induction furnace ) membuat arus yang tidak sinusoidal pada jaringan listrik dan mengakibatkan penurunan power quality pada utility atau pada sistem tenaga listrik di industri. Hal ini menjadi lebih serius dengan terjadinya harmonisa ke 5 dan ke 7 karena dampak negatifnya pada peralatan listrik di industri. Peredaman harmonisa dengan menggunakan Hybrid Active Filter merupakan pilihan yang tepat untuk mengurangi harmonisa tegangan dan arus. Hal ini dapat dibuktikan dengan simulasi rangkaian dengan menggunakan program PSim dan menunjukkan hasil yang baik yaitu dari 32,86% ITHD tanpa menggunakan filter menjadi 4,72% ITHD dengan Hybrid Active Filter, dan dapat memenuhi standard ITHD yang diperbolehkan.

Keyword : simulation, harmonic, hybrid active filter, psim, electric power

Sumber : http://repository.petra.ac.id/3977/

Studi penggunaan cubicle 20 KV double incoming dengan ATS untuk pelanggan diatas 1 MVA pada PLN distribusi Jawa Timur

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : TANTYO, ANDY

Jawa Timur merupakan salah satu pusat perdagangan, peridustrian, pariwisata yang sedang berkembang. Dalam pengembangannya diperlukan faktor-faktro pendukung, salah satunya adalah sumber daya listrik yang kebutuhannya semakin lama semakin meningkat. Dalam industri besar terutama untuk Pelanggan Tegangan Menegah (TM), perlu diterapkan penggunaan cubicle. Cubicle ditinjau dari penggunaannya terdiri dari Cubicle Single Incoming dan Cubicle Double Incoming. Cubicle Single Incoming dicatu oleh satu penyulang. Jika penyulang tersebut ada gangguan, maka pelanggan akan padam selama penyulang tersebut masih ada gangguan. Cubicle Double Incoming dicatu oleh dua penyulang. Penyulang 1 sebagai penyulang normal dan penyulang 2 sebagai penyulang standby. Dimana penyulang normal akan bekerja terlebih dahulu dan penyulang standby akan bekerja jika penyulang normal ada gangguan di phasa S atau penyulang normal trip. Pindahnya catu daya yang bekerja dari penyulang normal ke penyulang standby melalui media ATS dalam waktu 0,1 detik. Jadi penggunaan Cubicle Double Incoming lebih andal daripada Cubicle Single Incoming karena adanya cadangan catu daya dari penyulang standby.

Keyword : cubicle, 20 kv, double incoming, ats, electric power, transmission, transformer

Sumber : http://repository.petra.ac.id/3938/

Older Posts »

Blog at WordPress.com.