Kumpulan Skripsi & Artikel Jurnal Ilmiah

2009

Use of two factor design for making concrete paving block with fly ash

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : HANDOKO;, HALIM

A research has been carried out in Concrete and Construction Laboratory of Petra Christian University in Surabaya. The purpose of this research is to obtain information about the effect of paving stone type (fly ash/cement ratio) and curing period on paving stone strength using two Factorial Design Analysis. From the research, paving block type 0 (0% fly ash and 100% cement) gives the highest mean strength, 377.93 kg/cm 2 after 90 days of curing. The lowest mean strength, 155.05 kg/cm 2 given by paving block type 3 (30% fly ash and 70% cement), after 28 days of curing. Two factor design analysis gives result that paving stone type gives greater effect to compressive strength than curing period and there is no significant interaction between paving stone type and curing period.

Keyword : paving, compressive strength, two factor design, curing, fly ash, cement

Sumber : http://repository.petra.ac.id/4598/

Advertisements

Penelitian mengenai pengaruh polypropylene fibre pada self compacting concrete terhadap kuat tekan dan kuat tarik

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : GUNAWAN, JEFRY

Self Compacting Concrete ( SCC ) merupakan campuran beton yang mampu memadat sendiri tanpa menggunakan vibrator. SCC memerlukan mineral admixtures berupa fly ash serta chemical admixture berupa viscocrete yang berviskositas tinggi agar flowable. Beton juga memiliki kekurangan dalam penggunaannya yaitu kuat tarik yang rendah. Oleh sebab itu, dalam penelitian ini digunakan polypropylene fibre sehingga dapat meningkatkan kuat tarik pada beton. Pada penelitian ini, syarat-syarat SCC harus diperiksa. Pengujian filling ability dilakukan dengan menggunakan slump cone, sedangkan passing ability dengan L ? shaped box. Polypropylene fibre yang diberikan dalam campuran beton sebesar 0.6 kg/m 3 dari total volume beton. Untuk komposisi semen dengan fly ash dipakai 8 : 2 dan 7 : 3 yang masing – masing komposisi diberi dosis viscocrete 1.5% dan 2% dari berat total binder. Untuk test kuat tekan dan kuat tarik dilakukan pada umur 7, 14, 28 dan 56 hari. Hasil pengujian menunjukkan bahwa komposisi fly ash dan dosis viscocrete optimal untuk menghasilkan kuat tekan yang tinggi adalah komposisi fly ash 30% dan dosis viscocrete 1.5%. Sedangkan untuk kuat tarik yang tinggi dihasilkan dari komposisi fly ash 20% dengan dosis viscocrete 2%. Penambahan polypropylene fibre pada SCC tidak memperlihatkan kenaikan kuat tarik sedangkan untuk kuat tekannya lebih rendah.

Keyword : self compacting concrete, fly ash, polypropylene fibre, viscocrete, flowability, compressive strength, tensile strength

Sumber : http://repository.petra.ac.id/2843/

Durabilitas beton fly ash yang diaktivasi dengan larutan alkali

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : SETYAWAN;, RUDY

Penggunaan fly ash sebagai pengganti sebagian semen disertai dengan larutan alkali pada campuran beton merupakan suatu hal yang baru. Fly ash memiliki sifat pozzolanic yang dapat meningkatkan kekuatan beton pada usia lanjut, tetapi lambat dalam peningkatan kekuatan awalnya. Kelemahan dari penggunaan fly ash ini dicoba diatasi dengan penambahan alkali, yang dapat mempercepat dan menghasilkan ikatan polimer yang kuat antar partikel fly ash. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana keefektivitasan penggunaan fly ash dan larutan alkali terhadap durabilitas beton, yang difokuskan pada besarnya susut dan penetrasi ion klorida. Jenis fly ash yang dipakai pada penelitian ini adalah tipe C dan F, sedangkan alkali yang digunakan ialah sodium hidroksida (NaOH) dan sodium silikat (Na2SiO4). Dari hasil penelitian ini didapatkan penggunaan fly ash yang diaktivasi larutan alkali dapat mereduksi penetrasi ion klorida yang terjadi dengan lebih baik, bila dibandingkan dengan beton normal. Sedangkan untuk pengujian susut, penggunaan fly ash yang diaktivasi memberikan reduksi susut yang lebih kecil maupun lebih besar daripada beton normal, tergantung pada kadar alkalinya.

Keyword : fly ash, alkali activated, shrinkage, ion chloride penetration

Sumber : http://repository.petra.ac.id/5587/

Studi penetrasi ion klorida pada beton konvensional dan beton fly ash teraktivasi

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : SANJAYA;, WILLY

Salah satu masalah utama struktur beton di daerah maritim adalah korosi tulangan yang diakibatkan oleh penetrasi ion klorida. Agar struktur dapat mencapai masa layan yang didisain, diperlukan perencanaan ketahanan terhadap penetrasi ion klorida dengan memperhatikan kondisi di lapangan dan material yang digunakan. Penelitian ini dilakukan untuk mencari korelasi penetrasi ion klorida pada beton yang terjadi pada kondisi normal dan dengan menggunakan percepatan arus DC berdasarkan metode NordTest (NT Built 492). Selain itu juga akan diteliti cara untuk meningkatkan durabilitas struktur beton dengan menggunakan fly ash dan penggunakan larutan alkali sebagai aktivator untuk lebih meningkatkan durabilitasnya. Hasil yang didapat dari penelitian ini adalah korelasi antara penetrasi ion klorida.pada kondisi normal di lapangan dan dengan menggunakan percepatan arus DC. Penggunaan fly ash dan NaOH sebagai campuran beton juga menunjukkan bahwa dengan kadar fly ash 30% dan larutan NaOH memberikan hasil yang efektif dalam mereduksi ion klorida. Penggunaan NaOH dengan cara dicampurkan secara langsung lebih baik dibandingkan dengan mengoleskan pada permukaan beton.

Keyword : corrosion of reinforcing steel, chloride ion penetration, fly ash, alkaline solution

Sumber : http://repository.petra.ac.id/2845/

Penentuan pre-consolidation pressure untuk beberapa jenis tanah

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : SETIAWAN, FREDDY

Tekanan prakonsolidasi merupakan parameter yang penting, untuk mendapatkan informasi sejarah beban yang pernah di terima oleh lapisan tanah. Beberapa metode penentuan tekanan prakonsolidasi telah diusulkan oleh beberapa ahli. Penelitian ini membandingkan beberapa metode penentu tekanan prakonsolidasi beberapa macam tanah liat. Metode yang dipilih adalah Casagrande Method, Schmertmann Method, Janbu Method, Butterfield Method, Tavenas Method, Old Method, Van Zelst Method, dan New Method. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Butterfield Method, Tavenas Method, Casagrande Method dan New Method adalah metode-metode yang paling stabil dalam menentukan nilai % P c / P c yang ditentukan . Metode yang paling mendekati 100% dalam menentukan nilai % P c / P c yang ditentukan adalah metode Butterfield.

Keyword : soil, clay, fly ash, normal consolidation, preconsolidation pressure

Sumber : http://repository.petra.ac.id/4750/

Komposisi alkaline aktivator dan fly ash untuk beton geopolimer mutu tinggi

Author : YUWONO, CALVIN

Beton geopolymer atau beton dengan bahan dasar 100% fly ash ini merupakan salah satu alternatif pengganti beton yang pada umumnya menggunakan semen sebagai bahan dasar. Fly ash sendiri tidak dapat mengeras seperti halnya semen, maka dibutuhkan alkaline aktivator untuk mengikat fly ash. Beton geopolymer merupakan suatu material baru dan cukup potensial untuk digunakan di dalam dunia konstruksi. Tujuan dari penelitian ini adalah mencari komposisi mix design beton geopolymer mutu tinggi. Di dalam penelitian ini, parameter yang digunakan adalah perbandingan sodium silikat dan sodium hidroksida, konsentrasi sodium hidroksida, penggunaan superplasticiser, persiapan alkaline aktivator yang digunakan, faktor air-fly ash, kekuatan beton berdasarkan umur, perbandingan fly ash dan pasir, dan pengamatan terhadap pola keruntuhan yang terjadi. Hasilnya menunjukan bahwa perbandingan sodium silikat : sodium hidroksida yang paling efektif adalah 2.5. Konsentrasi sodium hidroksida yang menghasilkan kuat tekan beton tertinggi dalam penelitian ini adalah 8 Molar. Kuat tekan beton geopolymer yang dihasilkan paling optimum dalam penelitian ini adalah 75.77 MPa.

Keyword : geopolymer concrete, alkaline activator, compressive strength, fly ash, sodium silicate, sodium hydroxide, superplasticiser

Sumber : http://repository.petra.ac.id/2858/

Pengaruh fly ash terhadap permeabilitas dan collapsability cetakan pasir

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : SULISTIO, JULIANTO

Untuk mendapatkan produk hasil cor yang bagus, dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor tersebut adalah permeabilitas dan collapsability cetakan pasir. Permeabilitas cetakan pasir dapat dikatakan bagus, apabila dapat menyalurkan udara dalam cetakan pasir, sehingga udara dapat keluar sempurna. Collapsability cetakan pasir dikatakan baik, apabila dapat dengan mudahnya mengeluarkan hasil pengecoran dari cetakan pasir. Dalam penelitian ini, fly ash digunakan dalam cetakan pasir untuk mengetahui pengaruhnya terhadap permeabilitas dan collapsability cetakan pasir. Penelitian ini dilakukan dengan membuat beberapa spesimen dengan komposisi fly ash yang dipakai 0 % sampai 3 %. Pengujian terhadap spesimenspesimen ini dilakukan dengan menguji lima sampel untuk masing-masing spesimen. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah fly ash dapat meningkatkan permeabilitas dan collapsability cetakan pasir.

Keyword : fly ash, sand casting, permeabilitas, collapsability

Sumber : http://repository.petra.ac.id/5078/

Permeabilitas tanah ekspansif yang telah distabilkan

Filed under: Uncategorized — Tags: , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : ARIESONA;, DENDY

Sebuah penelitian dilakukan untuk mengetahui permeabilitas tanah ekspansif yang telah distabilisasi. Tanah ekspansif yang digunakan dalam penelitian diambil dari kawasan Surabaya Barat (Graha Family). Material yang digunakan untuk stabilisasi yaitu kapur, abu sekam, fly ash, dan semen. Pengujian laboratorium yang dilakukan adalah karakteristik tanah asli, tes permeabilitas, dan tes permeabilitas setelah wetting-drying test. Hasil studi pada makalah ini menunjukkan bahwa nilai koefisien permeabilitas tanah mengalami penurunan setelah distabilisasi, tetapi mengalami peningkatan yang amat besar setelah dilakukan tes weiting-drying. Fly ash merupakan material yang paling baik untuk menurunkan nilai koefisien permeabilitas tanah dibandingkan dengan kapur, abu sekam, ataupun semen.

Keyword : fly ash, wetting drying test

Pengaruh campuran kapur – microsilica dan campuran kapur – fly ash terhadap kekuatan tanah pasir

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : GRACITO;, RIENZI

Penggunaan Microsilica untuk stabilisasi tanah sangat jarang ditemui terutama di Indonesia, namun microsilica sangat sering digunakan sebagai bahan untuk menambah kekuatan dari beton. Microsilica adalah hasil samping dari produk silicon dan ferrosilicon alloys. Kandungan terbesar dari microsilica adalah SiO2 ( lebih dari 90% ) sehingga apabila bereaksi dengan unsur CaO yang terdapat dalam kapur akan membentuk suatu masa yang keras ( cementing agent ). Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh penambahan microsilica powder dan kapur terhadap kestabilan dan kekuatan tanah pasir. Secara umum penambahan microsilica-kapur atau Fly Ash – kapur akan meningkatkan daya dukung / kekuatan tanah pasir dan membuat lebih stabil terhadap cuaca. Pada penelitian ini percobaan yang dilakukan adalah Standart Proctor Test, Unconfined Compressive Strength (UCS), Permeability Test dan Wetting-Drying test. Hasil dari penelitian ini didapat bahwa komposisi campuran antara pasir, kapur, dengan microsilica atau pasir, kapur dengan fly ash yang optimum adalah 100 : 4 : 5.

Keyword : sand soil, stabilization, microsilica powder, fly ash, lime

Sumber : http://repository.petra.ac.id/3406/

Stabilisasi tanah ekspansif dengan menggunakan campuran fly ash dan kapur

Filed under: Uncategorized — Tags: — dvanhlast @ 7:31 am

Author : WELLY;, BENNY

Beberapa cara stabilisasi tanah ekspansif yang umum dilakukan antara lain adalah dengan mencampur tanah asli dengan kapur, fly ash, abu sekam, geosta, dan lain-lain. Pada penelitian ini dicoba mencampur tanah ekspansif yang diambil dari kawasan Surabaya Barat (Citra Land) dengan fly ash dan kapur. Variasi kadar fly ash dan kapur yang menggantikan tanah antara 2.5% sampai 15% berat kering. Pengujian laboratorium yang dilakukan antara lain, karakteristik tanah, swelling dan shrinkage potential, dan kekuatan (strength) tanah. Dari penelitian didapat bahwa penambahan campuran fly ash dan kapur dapat menaikkan plastic limit (PL), menurunkan plasticity index (PI), dan menaikkan shrinkage limit (SL). Perubahan juga terjadi pada hasil swelling pressurenya dari 1.73 kg/cm2 pada tanah asli menjadi dibawah 0.03 kg/cm2 pada tanah campuran. Tanah ekspansif dengan campuran fly ash dan kapur juga akan mengalami peningkatan kekuatan yang ditandai dengan peningkatan nilai UCS (Unconfined Compressive Strength). Kekuatan tanah campuran yang didapat dari hasil UCS meningkat dari 1.8 kg/cm2 pada tanah asli menjadi sekitar 12 kg/cm2. Perbandingan kadar fly ash dan kapur yang menghasilkan swell pressure minimum adalah 50%:50%, sedangkan yang menghasilkan kekuatan maksimum adalah 25%:75%.

Keyword : fly ash

Older Posts »

Blog at WordPress.com.