Kumpulan Skripsi & Artikel Jurnal Ilmiah

2009

Komposisi alkaline aktivator dan fly ash untuk beton geopolimer mutu tinggi

Author : YUWONO, CALVIN

Beton geopolymer atau beton dengan bahan dasar 100% fly ash ini merupakan salah satu alternatif pengganti beton yang pada umumnya menggunakan semen sebagai bahan dasar. Fly ash sendiri tidak dapat mengeras seperti halnya semen, maka dibutuhkan alkaline aktivator untuk mengikat fly ash. Beton geopolymer merupakan suatu material baru dan cukup potensial untuk digunakan di dalam dunia konstruksi. Tujuan dari penelitian ini adalah mencari komposisi mix design beton geopolymer mutu tinggi. Di dalam penelitian ini, parameter yang digunakan adalah perbandingan sodium silikat dan sodium hidroksida, konsentrasi sodium hidroksida, penggunaan superplasticiser, persiapan alkaline aktivator yang digunakan, faktor air-fly ash, kekuatan beton berdasarkan umur, perbandingan fly ash dan pasir, dan pengamatan terhadap pola keruntuhan yang terjadi. Hasilnya menunjukan bahwa perbandingan sodium silikat : sodium hidroksida yang paling efektif adalah 2.5. Konsentrasi sodium hidroksida yang menghasilkan kuat tekan beton tertinggi dalam penelitian ini adalah 8 Molar. Kuat tekan beton geopolymer yang dihasilkan paling optimum dalam penelitian ini adalah 75.77 MPa.

Keyword : geopolymer concrete, alkaline activator, compressive strength, fly ash, sodium silicate, sodium hydroxide, superplasticiser

Sumber : http://repository.petra.ac.id/2858/

Pengaruh fly ash terhadap permeabilitas dan collapsability cetakan pasir

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : SULISTIO, JULIANTO

Untuk mendapatkan produk hasil cor yang bagus, dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor tersebut adalah permeabilitas dan collapsability cetakan pasir. Permeabilitas cetakan pasir dapat dikatakan bagus, apabila dapat menyalurkan udara dalam cetakan pasir, sehingga udara dapat keluar sempurna. Collapsability cetakan pasir dikatakan baik, apabila dapat dengan mudahnya mengeluarkan hasil pengecoran dari cetakan pasir. Dalam penelitian ini, fly ash digunakan dalam cetakan pasir untuk mengetahui pengaruhnya terhadap permeabilitas dan collapsability cetakan pasir. Penelitian ini dilakukan dengan membuat beberapa spesimen dengan komposisi fly ash yang dipakai 0 % sampai 3 %. Pengujian terhadap spesimenspesimen ini dilakukan dengan menguji lima sampel untuk masing-masing spesimen. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah fly ash dapat meningkatkan permeabilitas dan collapsability cetakan pasir.

Keyword : fly ash, sand casting, permeabilitas, collapsability

Sumber : http://repository.petra.ac.id/5078/

Permeabilitas tanah ekspansif yang telah distabilkan

Filed under: Uncategorized — Tags: , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : ARIESONA;, DENDY

Sebuah penelitian dilakukan untuk mengetahui permeabilitas tanah ekspansif yang telah distabilisasi. Tanah ekspansif yang digunakan dalam penelitian diambil dari kawasan Surabaya Barat (Graha Family). Material yang digunakan untuk stabilisasi yaitu kapur, abu sekam, fly ash, dan semen. Pengujian laboratorium yang dilakukan adalah karakteristik tanah asli, tes permeabilitas, dan tes permeabilitas setelah wetting-drying test. Hasil studi pada makalah ini menunjukkan bahwa nilai koefisien permeabilitas tanah mengalami penurunan setelah distabilisasi, tetapi mengalami peningkatan yang amat besar setelah dilakukan tes weiting-drying. Fly ash merupakan material yang paling baik untuk menurunkan nilai koefisien permeabilitas tanah dibandingkan dengan kapur, abu sekam, ataupun semen.

Keyword : fly ash, wetting drying test

Pengaruh campuran kapur – microsilica dan campuran kapur – fly ash terhadap kekuatan tanah pasir

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : GRACITO;, RIENZI

Penggunaan Microsilica untuk stabilisasi tanah sangat jarang ditemui terutama di Indonesia, namun microsilica sangat sering digunakan sebagai bahan untuk menambah kekuatan dari beton. Microsilica adalah hasil samping dari produk silicon dan ferrosilicon alloys. Kandungan terbesar dari microsilica adalah SiO2 ( lebih dari 90% ) sehingga apabila bereaksi dengan unsur CaO yang terdapat dalam kapur akan membentuk suatu masa yang keras ( cementing agent ). Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh penambahan microsilica powder dan kapur terhadap kestabilan dan kekuatan tanah pasir. Secara umum penambahan microsilica-kapur atau Fly Ash – kapur akan meningkatkan daya dukung / kekuatan tanah pasir dan membuat lebih stabil terhadap cuaca. Pada penelitian ini percobaan yang dilakukan adalah Standart Proctor Test, Unconfined Compressive Strength (UCS), Permeability Test dan Wetting-Drying test. Hasil dari penelitian ini didapat bahwa komposisi campuran antara pasir, kapur, dengan microsilica atau pasir, kapur dengan fly ash yang optimum adalah 100 : 4 : 5.

Keyword : sand soil, stabilization, microsilica powder, fly ash, lime

Sumber : http://repository.petra.ac.id/3406/

Stabilisasi tanah ekspansif dengan menggunakan campuran fly ash dan kapur

Filed under: Uncategorized — Tags: — dvanhlast @ 7:31 am

Author : WELLY;, BENNY

Beberapa cara stabilisasi tanah ekspansif yang umum dilakukan antara lain adalah dengan mencampur tanah asli dengan kapur, fly ash, abu sekam, geosta, dan lain-lain. Pada penelitian ini dicoba mencampur tanah ekspansif yang diambil dari kawasan Surabaya Barat (Citra Land) dengan fly ash dan kapur. Variasi kadar fly ash dan kapur yang menggantikan tanah antara 2.5% sampai 15% berat kering. Pengujian laboratorium yang dilakukan antara lain, karakteristik tanah, swelling dan shrinkage potential, dan kekuatan (strength) tanah. Dari penelitian didapat bahwa penambahan campuran fly ash dan kapur dapat menaikkan plastic limit (PL), menurunkan plasticity index (PI), dan menaikkan shrinkage limit (SL). Perubahan juga terjadi pada hasil swelling pressurenya dari 1.73 kg/cm2 pada tanah asli menjadi dibawah 0.03 kg/cm2 pada tanah campuran. Tanah ekspansif dengan campuran fly ash dan kapur juga akan mengalami peningkatan kekuatan yang ditandai dengan peningkatan nilai UCS (Unconfined Compressive Strength). Kekuatan tanah campuran yang didapat dari hasil UCS meningkat dari 1.8 kg/cm2 pada tanah asli menjadi sekitar 12 kg/cm2. Perbandingan kadar fly ash dan kapur yang menghasilkan swell pressure minimum adalah 50%:50%, sedangkan yang menghasilkan kekuatan maksimum adalah 25%:75%.

Keyword : fly ash

Penelitian self compacting concrete dengan fly ash dan silica fume terhadap absorpsi dan kuat tekan

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : CHRISTINA;, VANDA

Self Compacting Concrete ( SCC ) merupakan beton yang dapat memadat sendiri tanpa vibrator sehingga ukuran dan proporsi agregat kasar harus dibatasi. SCC memerlukan mineral admixtures berupa fly ash dan silica fume serta chemical admixture berupa viscocrete yang berviskositas tinggi agar flowable. Hal ini menyebabkan SCC bersifat watertight concrete yang dapat digunakan pada struktur beton yang berhubungan dengan air. Selama ini penggunaan SCC di lapangan tidak diuji tingkat absorpsinya. Dari penelitian terdahulu tentang SCC, didapatkan penggunaan optimal fly ash adalah 20% dan 30%. Sedangkan dari P.T. Sika sebagai produsen silica fume, didapatkan penggunaan optimal silica fume adalah 5% dan 10% dari berat binder. Komposisi yang diteliti diperoleh dari trial mix agar persyaratan flowability, yaitu filling ability dan passing ability dapat terpenuhi. Pengujian filling ability dilakukan dengan slump cone, sedangkan passing ability dengan L ? Shaped Box. Tes absorpsi dilakukan pada umur beton 7 dan 28 hari, sedangkan tes kuat tekan pada umur 7, 14, 28 dan 56 hari. Komposisi yang diuji adalah semen dengan fly ash 8 : 2 dan 7 : 3 serta semen dengan silica fume 9.5 : 0.5 dan 9 :1, masing – masing komposisi diberi dosis viscocrete 1%, 1.5% dan 2% dari berat semen. Hasil pengujian menunjukkan dosis viscocrete optimal agar memenuhi syarat flowability adalah 1.5%. Komposisi optimal untuk menghasilkan nilai absorpsi yang rendah adalah fly ash 20% dan viscocrete 2%, serta silica fume 5% dan viscocrete 2%. Sedangkan komposisi optimal untuk menghasilkan kuat tekan yang tinggi adalah fly ash 30% dan viscocrete 2%, serta silica fume 10% dan viscocrete 1.5%.

Keyword : self compacting concrete, fly ash, silica fume, viscocrete, flowability, absorption, compressive strength

Sumber : http://repository.petra.ac.id/3409/

Penelitian beton geopolymer dengan fly ash untuk beton struktural

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : SUTANTO;, ERICK

Beton geopolymer merupakan suatu varian beton yang cukup baru dalam dunia konstruksi di Indonesia pada khususnya. Beton geopolymer merupakan suatu produk beton yang secara total tidak menggunakan semen. Sebagai pengganti semen digunakan fly ash. Dalam penelitian ini digunakan 18 buah komposisi campuran beton yang terbagi menjadi 2 bagian besar yaitu tanpa penambahan sodium silikat dan sodium hidroksida serta dengan penambahan sodium silikat dan sodium hidroksida. Penambahan sodium silikat dan sodium hidroksida ini diberikan dengan dosis 5% dan 10%. Selain itu juga digunakan komposisi dengan perbandingan binder yang berbeda yaitu sebesar 50% : 50% dan 75% : 25%. Sifat-sifat beton geopolymer didapatkan dengan pengujian absorpsi dan pengujian kuat tekan dari sample beton geopolymer. Pengujian absorpsi dilakukan pada saat umur beton 28 hari. Pengujian absorpsi pada penelitian ini berdasarkan ASTM. Sedangkan pengujian kuat tekan dilakukan pada saat umur beton 7, 14, 28 dan 56 hari. Dari hasil pengujian absorpsi, beton geopolymer tergolong dalam kategori absorpsi rendah. Sedangkan dari hasil tes kuat tekan, beton geopolymer dapat mencapai 25 MPa dan dengan biaya produksi yang kompetitif terhadap beton konvensional.

Keyword : geopolymer, binder, fly ash, absorption test, compression test, ASTM, sodium silicate, sodium hydroxide.

Sumber : http://repository.petra.ac.id/925/

Study penggunaan fly ash sebagai material utama yang dicampurkan dengan tanah lempung untuk timbunan (embankment)

Filed under: Uncategorized — Tags: , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : INDRO, DONALD

Untuk membuat timbunan biasanya ada beberapa bahan material yang dapat digunakan seperti sirtu (pasir batu), tanah lempung, dan lain-lain. Dengan melakukan penilitian ini fly ash diharapkan dapat digunakan sebagai bahan alternative timbunan. Tanah lempung yang digunakan untuk penilitian ini diambil di kawasan Surabaya Selatan, tanah lempung yang tersebut mempunyai kadar air ? 60-80%. Peralatan laboratorium yang dapat digunakan untuk membantu penelitian ini antara lain: Proctor, Direct Shear Test, Unconfined Compression Test, California Bearing Ratio Test, Wetting and Drying. Ada 4 penelitian yang dilakukan dimana untuk mendapatkan kualitas terbaik sebagai campuran untuk timbunan. Penelitian pertama merupakan campuran komposisi 95% fly ash + 5% tanah lempung, penelitian kedua merupakan campuran komposisi 90% fly ash + 10% tanah lempung, penelitian ketiga merupakan campuran komposisi 85% fly ash + 15% tanah lempung, penelitian keempat merupakan campuran komposisi 80% fly ash + 20% tanah lempung. Berdasarkan percobaan komposisi 90% fly ash + 10% tanah lempung memiliki kekuatan dan kepadatan yang lebih besar dibandingkan komposisi lainnya.

Keyword : fly ash, cay, embankment

Sumber : http://repository.petra.ac.id/3417/

Pengaruh fly ash terhadap sifat kembang susut tanah ekspansif

Filed under: Uncategorized — Tags: , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : CRISTANTO;, ANDY

Sifat kembang susut dari tanah ekspansif merupakan masalah yang cukup sulit dalam bidang teknik sipil. Beberapa metode untuk stabilisasi tanah ekspansif telah banyak dilakukan. Dalam studi ini dilakukan penelitian dari tanah ekspansif dengan fly ash. Fly ash ditambahkan pada tanah ekspansif masing-masing 10%, 15%, 20%, 25%, dan hasilnya dibandingkan dengan tanah asli. Percobaan yang dilakukan meliputi atterberg limit, distribusi butiran, Unconfined Compression Strength (UCS), dan sifat kembang susut. Dalam penelitian ini juga dilakukan percobaan tentang pengaruh lamanya waktu perawatan (curing) terhadap sifat kembang susut dan kekuatan tanah ekspansif. Dari hasil penelitian awal ini didapat bahwa penambahan 20% fly ash pada tanah ekspansif mampu menurunkan pengembangan sebesar 13.2%, demikian pula dengan penambahan 20% fly ash akan menyebabkan penurunan swelling pressure sebesar 0.57 kg/cm”. Kekuatan tanah makin meningkat dengan bertambahnya persentase fly ash yaitu dari 2.17 kg/cm? pada tanah asli menjadi 2.93 kg/cm? pada campuran 25% tanpa curing. Lamanya waktu curing dapat menambah kekuatan tanah campuran yaitu dari 2.93 kg/cm? menjadi 4.29 kg/cm? pada curing 7 hari.

Keyword : fly ash, unconfined compression strength

Sumber : http://repository.petra.ac.id/1059/

Siklus drying wetting pada campuran fly ash dengan tanah liat

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : ARIEWIBOWO;, BIMO

Perubahan cuaca yang terjadi, terutama di negara yang memiliki 2 musim seperti di Indonesia, akan menimbulkan dampak terutama dalam segi konstruksi. Terutama pada suatu gedung atau bangunan yang dibangun di atas tanah lempung yang tidak stabil akan banyak menimbulkan masalah. Selain itu, banyaknya jumlah dari limbah batu bara yaitu fly ash akan memberikan ide pada beberapa kalangan untuk dapat memanfaatkannya, terutama dalam bidang konstruksi. Banyak penelitian yang menggunakan fly ash ini, tetapi disini bahan tersebut akan digunakan sebagai bahan utama. Dengan melalui percobaan pengeringan (drying) dan pembasahan (wetting), dengan sampel disturbed di laboratorium, diharapkan akan dapat dipelajari perilaku sudut geser dan kohesi dari campuran tanah liat dengan fly ash, yaitu yang berhubungan dengan tegangan air pori negatif. Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa dalam kondisi drying, tanah mengalami peningkatan sudut geser yang lebih besar dibandingkan tanah dalam keadaan wetting. Dimana semakin besar kadar air (Wc) yang dikandung oleh tanah, sudut geser tanah tersebut semakin kecil. Hal ini dapat dilihat dari besarnya nilai sudut geser (o ) dari sample tanah yang dikeringkan lebih besar dibandingkan dengan nilai o dari sample tanah yang dibasahi.

Keyword : drying, wetting, fly ash, clay, angle of friction , cohesi, sunction

Sumber : http://repository.petra.ac.id/3438/

Older Posts »

Create a free website or blog at WordPress.com.