Kumpulan Skripsi & Artikel Jurnal Ilmiah

2009

Penggunaan fly ash untuk pembuatan paving block

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : KRISTANTO;, ANTON

Dalam penelitian ini kami mencoba mempelajari pengaruh pemakaian fly ash dalam membuat paving block karena belum ada penelitian tentang hal ini. Kami mengambil contoh fly ash yang berasal dari Tjiwi Kimia sebagai contoh material yang digunakan untuk pembuatan paving block. Dalam penelitian ini formula dasar kami peroleh dari literature dan perusahaan paving. Komposisi awal dari penelitian ini menggunakan perbandingan sebagai berikut: Semen : pasir : kerikil = 1 : 2,11 : 2,63. Formula dasar ini kami kembangkan dengan menambahkan beberapa variasi komposisi fly ash sebagai pengganti pasir untuk memperoleh hasil yang maksimal dari penggunaan fly ash. Pengembangan penelitian selanjutnya dilakukan variasi komposisi paving dengan perbandingan semen : pasir : kerikil : fly ash = 1 : 1,3 : 2,6 : 0,8 dan kami pelajari pengaruh masing-masing faktor terhadap kuat tekan dengan menggunakan metode Fraksional faktorial desain. Hasil penelitian yang diperoleh mengambarkan bahwa fly ash dapat digunakan sebagai pengganti komponen pasir, dengan hasil tes kuat tekan rata-rata yang lebih baik sebesar 11,52 %. Komposisi fly ash yang paling efektif dalam menggantikan pasir adalah 40 %, dan peningkatan kekuatan yang dihasilkan sebesar 43,09 %. Faktor yang memiliki pengaruh terbesar bagi penyerapan air dan kuat tekan pada semua sampel paving adalah interaksi antara faktor Semen-Pasir-Kerikil. Komposisi terbaik dalam penelitian kami terdapat pada formula 12, dengan perbandingan semen : pasir : kerikil : fly ash = 0,9 : 1,2 : 2,8 : 0,76; dengan kuat tekan yang dihasilkan sebesar 617,40 kg/cm 2 . Pada umur 28 hari, kuat tekan paving masa curing 28 hari lebih besar 14,30% dibandingkan masa curing 7 hari. Pada masa curing yang sama (28 hari), kuat tekan paving umur 60 hari meningkat sebesar 32,58 % dibandingkan kuat tekan paving umur 28 hari.

Keyword : fly ash, paving block, cement, sand, aggregates

Sumber : http://repository.petra.ac.id/4572/

Penggunaaan material fly ash untuk pembuatan ceramic paving brick

Filed under: Uncategorized — Tags: , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : HARTONO;, ALEXANDER

Fly Ash yang merupakan material sisa limbah industri, umumnya sekarang banyak dipakai untuk campuran beton readymix, namun pemanfaatan/7y ash sebagai salah satu material alternative yang mempunyai harga murah masih belum maksimal, melihat kenyataan penghasilan fly ash dari limbah industri masih lebih banyak daripada pendayagunaan fly ash. Melalui penelitian ini, kemungkinan penggunaan material fly ash untuk membuat produk bahan bangunan seperti ceramic paving brick dipelajari. Fly ash yang diambil dari Pabrik Tjiwi Kimia, Mojokerto dicampur dengan tanah liat Mojokerton digunakan untuk membuat ceramic paving brick. Penelitian ini menggunakan komposisi kadar fly ash dan tanah liat, dengan variasi suhu pembakaran dan lama pembakaran untuk menguji compressive strength, water absorption, dan shrinkage. Analisa yang digunakan yaitu percobaan 2 faktorial desain, dengan level terendah dan tertinggi berturut-turut 5%/15% kadar fly ash, 400?C/600?C suhu pembakaran, dan 60 menit/120 menit lama pembakaran. Hasil peneJitian menunjukkarj bahwa untuk level tertinggi dengan kadar fly ash 15% dibakar pada suhu 600?C selama 120 menit, rata-rata mempunyai compressive strength 188.63 kg/cm 2 .

Keyword : ceramic paving brick, clay, fly ash

Sumber : http://repository.petra.ac.id/2269/

Use of two factor design for making concrete paving block with fly ash

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : HANDOKO;, HALIM

A research has been carried out in Concrete and Construction Laboratory of Petra Christian University in Surabaya. The purpose of this research is to obtain information about the effect of paving stone type (fly ash/cement ratio) and curing period on paving stone strength using two Factorial Design Analysis. From the research, paving block type 0 (0% fly ash and 100% cement) gives the highest mean strength, 377.93 kg/cm 2 after 90 days of curing. The lowest mean strength, 155.05 kg/cm 2 given by paving block type 3 (30% fly ash and 70% cement), after 28 days of curing. Two factor design analysis gives result that paving stone type gives greater effect to compressive strength than curing period and there is no significant interaction between paving stone type and curing period.

Keyword : paving, compressive strength, two factor design, curing, fly ash, cement

Sumber : http://repository.petra.ac.id/4598/

Penelitian mengenai pengaruh polypropylene fibre pada self compacting concrete terhadap kuat tekan dan kuat tarik

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : GUNAWAN, JEFRY

Self Compacting Concrete ( SCC ) merupakan campuran beton yang mampu memadat sendiri tanpa menggunakan vibrator. SCC memerlukan mineral admixtures berupa fly ash serta chemical admixture berupa viscocrete yang berviskositas tinggi agar flowable. Beton juga memiliki kekurangan dalam penggunaannya yaitu kuat tarik yang rendah. Oleh sebab itu, dalam penelitian ini digunakan polypropylene fibre sehingga dapat meningkatkan kuat tarik pada beton. Pada penelitian ini, syarat-syarat SCC harus diperiksa. Pengujian filling ability dilakukan dengan menggunakan slump cone, sedangkan passing ability dengan L ? shaped box. Polypropylene fibre yang diberikan dalam campuran beton sebesar 0.6 kg/m 3 dari total volume beton. Untuk komposisi semen dengan fly ash dipakai 8 : 2 dan 7 : 3 yang masing – masing komposisi diberi dosis viscocrete 1.5% dan 2% dari berat total binder. Untuk test kuat tekan dan kuat tarik dilakukan pada umur 7, 14, 28 dan 56 hari. Hasil pengujian menunjukkan bahwa komposisi fly ash dan dosis viscocrete optimal untuk menghasilkan kuat tekan yang tinggi adalah komposisi fly ash 30% dan dosis viscocrete 1.5%. Sedangkan untuk kuat tarik yang tinggi dihasilkan dari komposisi fly ash 20% dengan dosis viscocrete 2%. Penambahan polypropylene fibre pada SCC tidak memperlihatkan kenaikan kuat tarik sedangkan untuk kuat tekannya lebih rendah.

Keyword : self compacting concrete, fly ash, polypropylene fibre, viscocrete, flowability, compressive strength, tensile strength

Sumber : http://repository.petra.ac.id/2843/

Durabilitas beton fly ash yang diaktivasi dengan larutan alkali

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : SETYAWAN;, RUDY

Penggunaan fly ash sebagai pengganti sebagian semen disertai dengan larutan alkali pada campuran beton merupakan suatu hal yang baru. Fly ash memiliki sifat pozzolanic yang dapat meningkatkan kekuatan beton pada usia lanjut, tetapi lambat dalam peningkatan kekuatan awalnya. Kelemahan dari penggunaan fly ash ini dicoba diatasi dengan penambahan alkali, yang dapat mempercepat dan menghasilkan ikatan polimer yang kuat antar partikel fly ash. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana keefektivitasan penggunaan fly ash dan larutan alkali terhadap durabilitas beton, yang difokuskan pada besarnya susut dan penetrasi ion klorida. Jenis fly ash yang dipakai pada penelitian ini adalah tipe C dan F, sedangkan alkali yang digunakan ialah sodium hidroksida (NaOH) dan sodium silikat (Na2SiO4). Dari hasil penelitian ini didapatkan penggunaan fly ash yang diaktivasi larutan alkali dapat mereduksi penetrasi ion klorida yang terjadi dengan lebih baik, bila dibandingkan dengan beton normal. Sedangkan untuk pengujian susut, penggunaan fly ash yang diaktivasi memberikan reduksi susut yang lebih kecil maupun lebih besar daripada beton normal, tergantung pada kadar alkalinya.

Keyword : fly ash, alkali activated, shrinkage, ion chloride penetration

Sumber : http://repository.petra.ac.id/5587/

Studi penetrasi ion klorida pada beton konvensional dan beton fly ash teraktivasi

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : SANJAYA;, WILLY

Salah satu masalah utama struktur beton di daerah maritim adalah korosi tulangan yang diakibatkan oleh penetrasi ion klorida. Agar struktur dapat mencapai masa layan yang didisain, diperlukan perencanaan ketahanan terhadap penetrasi ion klorida dengan memperhatikan kondisi di lapangan dan material yang digunakan. Penelitian ini dilakukan untuk mencari korelasi penetrasi ion klorida pada beton yang terjadi pada kondisi normal dan dengan menggunakan percepatan arus DC berdasarkan metode NordTest (NT Built 492). Selain itu juga akan diteliti cara untuk meningkatkan durabilitas struktur beton dengan menggunakan fly ash dan penggunakan larutan alkali sebagai aktivator untuk lebih meningkatkan durabilitasnya. Hasil yang didapat dari penelitian ini adalah korelasi antara penetrasi ion klorida.pada kondisi normal di lapangan dan dengan menggunakan percepatan arus DC. Penggunaan fly ash dan NaOH sebagai campuran beton juga menunjukkan bahwa dengan kadar fly ash 30% dan larutan NaOH memberikan hasil yang efektif dalam mereduksi ion klorida. Penggunaan NaOH dengan cara dicampurkan secara langsung lebih baik dibandingkan dengan mengoleskan pada permukaan beton.

Keyword : corrosion of reinforcing steel, chloride ion penetration, fly ash, alkaline solution

Sumber : http://repository.petra.ac.id/2845/

Penentuan pre-consolidation pressure untuk beberapa jenis tanah

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : SETIAWAN, FREDDY

Tekanan prakonsolidasi merupakan parameter yang penting, untuk mendapatkan informasi sejarah beban yang pernah di terima oleh lapisan tanah. Beberapa metode penentuan tekanan prakonsolidasi telah diusulkan oleh beberapa ahli. Penelitian ini membandingkan beberapa metode penentu tekanan prakonsolidasi beberapa macam tanah liat. Metode yang dipilih adalah Casagrande Method, Schmertmann Method, Janbu Method, Butterfield Method, Tavenas Method, Old Method, Van Zelst Method, dan New Method. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Butterfield Method, Tavenas Method, Casagrande Method dan New Method adalah metode-metode yang paling stabil dalam menentukan nilai % P c / P c yang ditentukan . Metode yang paling mendekati 100% dalam menentukan nilai % P c / P c yang ditentukan adalah metode Butterfield.

Keyword : soil, clay, fly ash, normal consolidation, preconsolidation pressure

Sumber : http://repository.petra.ac.id/4750/

Komposisi alkaline aktivator dan fly ash untuk beton geopolimer mutu tinggi

Author : YUWONO, CALVIN

Beton geopolymer atau beton dengan bahan dasar 100% fly ash ini merupakan salah satu alternatif pengganti beton yang pada umumnya menggunakan semen sebagai bahan dasar. Fly ash sendiri tidak dapat mengeras seperti halnya semen, maka dibutuhkan alkaline aktivator untuk mengikat fly ash. Beton geopolymer merupakan suatu material baru dan cukup potensial untuk digunakan di dalam dunia konstruksi. Tujuan dari penelitian ini adalah mencari komposisi mix design beton geopolymer mutu tinggi. Di dalam penelitian ini, parameter yang digunakan adalah perbandingan sodium silikat dan sodium hidroksida, konsentrasi sodium hidroksida, penggunaan superplasticiser, persiapan alkaline aktivator yang digunakan, faktor air-fly ash, kekuatan beton berdasarkan umur, perbandingan fly ash dan pasir, dan pengamatan terhadap pola keruntuhan yang terjadi. Hasilnya menunjukan bahwa perbandingan sodium silikat : sodium hidroksida yang paling efektif adalah 2.5. Konsentrasi sodium hidroksida yang menghasilkan kuat tekan beton tertinggi dalam penelitian ini adalah 8 Molar. Kuat tekan beton geopolymer yang dihasilkan paling optimum dalam penelitian ini adalah 75.77 MPa.

Keyword : geopolymer concrete, alkaline activator, compressive strength, fly ash, sodium silicate, sodium hydroxide, superplasticiser

Sumber : http://repository.petra.ac.id/2858/

Pengaruh fly ash terhadap permeabilitas dan collapsability cetakan pasir

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : SULISTIO, JULIANTO

Untuk mendapatkan produk hasil cor yang bagus, dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor tersebut adalah permeabilitas dan collapsability cetakan pasir. Permeabilitas cetakan pasir dapat dikatakan bagus, apabila dapat menyalurkan udara dalam cetakan pasir, sehingga udara dapat keluar sempurna. Collapsability cetakan pasir dikatakan baik, apabila dapat dengan mudahnya mengeluarkan hasil pengecoran dari cetakan pasir. Dalam penelitian ini, fly ash digunakan dalam cetakan pasir untuk mengetahui pengaruhnya terhadap permeabilitas dan collapsability cetakan pasir. Penelitian ini dilakukan dengan membuat beberapa spesimen dengan komposisi fly ash yang dipakai 0 % sampai 3 %. Pengujian terhadap spesimenspesimen ini dilakukan dengan menguji lima sampel untuk masing-masing spesimen. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah fly ash dapat meningkatkan permeabilitas dan collapsability cetakan pasir.

Keyword : fly ash, sand casting, permeabilitas, collapsability

Sumber : http://repository.petra.ac.id/5078/

Permeabilitas tanah ekspansif yang telah distabilkan

Filed under: Uncategorized — Tags: , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : ARIESONA;, DENDY

Sebuah penelitian dilakukan untuk mengetahui permeabilitas tanah ekspansif yang telah distabilisasi. Tanah ekspansif yang digunakan dalam penelitian diambil dari kawasan Surabaya Barat (Graha Family). Material yang digunakan untuk stabilisasi yaitu kapur, abu sekam, fly ash, dan semen. Pengujian laboratorium yang dilakukan adalah karakteristik tanah asli, tes permeabilitas, dan tes permeabilitas setelah wetting-drying test. Hasil studi pada makalah ini menunjukkan bahwa nilai koefisien permeabilitas tanah mengalami penurunan setelah distabilisasi, tetapi mengalami peningkatan yang amat besar setelah dilakukan tes weiting-drying. Fly ash merupakan material yang paling baik untuk menurunkan nilai koefisien permeabilitas tanah dibandingkan dengan kapur, abu sekam, ataupun semen.

Keyword : fly ash, wetting drying test

« Newer PostsOlder Posts »

Create a free website or blog at WordPress.com.