Kumpulan Skripsi & Artikel Jurnal Ilmiah

2009

Repositioning bioskop 21 dalam menghadapi persaingan dengan Digital Video Disc (DVD) di Surabaya

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : FANDI, FERDINANDUS

Banyaknya DVD yang berada di pasaran, secara langsung mempengaruhi stamina pasar dari Bioskop 21. Hal ini mengingat dilihat dari berbagai hal, terdapat keunggulan DVD yang tidak dimiliki Bioskop 21, meskipun pada dasarnya Bioskop 21 juga mempunyai sejumlah keunggulan yang tidak dimiliki DVD. Untuk itu, Bioskop 21 melakukan repositioning, namun repositioning ini juga perlu dilihat efektifitasnya dihadapkan pada persaingan dengan DVD. Berdasarkan pada hasil analisis gap, Bioskop 21 lebih unggul (gap positif) dalam beberapa hal, yaitu: kualitas sound system, ketajaman gambar film, kualitas suara, kecepatan akses film box office, respon konsumen pada film box office di Bioskop 21, harga, dan paket hemat. Sedangkan kelemahan (gap negatif) pada Bioskop 21 dibandingkan dengan DVD terletak pada: kenyamanan menyaksikan film, sensor film, dubbing bahasa (terjemahan bahasa dalam teks), dan kemudahan menjangkau lokasi Bioskop 21. Berdasarkan hasil analisis crosstabb, gap negatif tertinggi (kategori sedang) untuk keseluruhan konsumen dan terletak pada atribut kemudahan menyaksikan film. Hal ini menunjukkan bahwa kenymanan lokasi perlu mendapatkan perhatian dari Bioskop 21 sehingga meningkatkan kepuasan konsumen.

Keyword : 21 theatre, repositioning, positioning, dvd

Sumber : http://repository.petra.ac.id/1553/

Analisa pengaruh retargeting dan repositioning terhadap minat beli konsumen Kafe Exposee Surabaya

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : JANUARIANI;, DEWI

Persaingan yang terjadi dalam bisnis kafe di Surabaya semakin ketat. Bahkan ada beberapa dari kafe tersebut yang gulung tikar karena tidak mampu bertahan. Tetapi ada sebagian kafe yang mulai melakukan perubahan strategi untuk mencoba mempertahankan keeksisannya di tengah persaingan yang ada. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan mengubah pasar sasaran dan mereposisikan kembali dirinya dengan tujuan mendapatkan keuntungan yang lebih baik. Kafe Exposee Surabaya adalah sebuah kafe yang berlokasi di jalan Tenggilis Mejoyo AF 33, Surabaya, tepatnya dekat dengan kampus Universitas Surabaya, yang mencoba mengubah konsep kafe dengan melakukan retargeting dan repositioning. Dalam pelaksanaannya, retargeting yang dilakukan oleh kafe Exposee meliputi perubahan target pasar dari mahasiswa Ubaya dan sekitarnya dengan berbagai tingkat ekonomi yang berbeda, menjadi mahasiswa dan anak-anak muda, tidak hanya dari Ubaya saja, melainkan dari berbagai universitas di Surabaya, dengan tingkat ekonomi menengah ke atas. Sedangkan, untuk pelaksanaan repositioning melibatkan tujuh variabel bauran pemasaran (marketing mix) yang meliputi: product (X1), people (X2), packaging (X3), programming (X4), place (X5), promotion (X6), dan pricing (X7). Dimana minat beli konsumen dijadikan sebagai acuan dalam menentukan keberhasilan pelaksanaannya. Dalam penulisan tugas akhir ini, penulis ingin melakukan penelitian lebih lanjut tentang strategi retargeting dan repositioning yang telah dilakukan kafe Exposee, apakah ketujuh variabel bauran pemasaran secara keseluruhan memiliki pengaruh terhadap minat beli konsumen kafe Exposee. Dalam hal ini, penulis membagikan angket kepada 100 orang responden. Penelitian menunjukkan hasil bahwa perubahan ketujuh variabel bauran pemasaran memiliki pengaruh signifikan secara bersama-sama terhadap minat beli konsumen kafe Exposee. Tetapi diantara tujuh variabel tersebut, ada satu variabel yang paling menonjol berpengaruh bagi minat beli konsumen kafe Exposee, yaitu packaging (meliputi desain interior dan suasana kafe yang menarik).

Keyword : consumer, restaurant management, retargeting, repositioning, purchase intention, exposee cafe surabaya

Sumber : http://repository.petra.ac.id/2230/

Evaluasi repositioning kopi bubuk cap Singa melalui atribut produk

Filed under: Uncategorized — Tags: , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : GUNAWAN, RICKY

Pemetaan kembali Kopi Mix Cap Singa merupakan satu usaha dari PT Jeng Gwan untuk membentuk satu image baru di benak konsumen. Kopi Cap Singa melakukan pemetaan kembali melalui perubahan atribut produk untuk membentuk image baru di benak konsumen. Perubahan atribut produk yang dilakukan meliputi kecepatan penyajian, kepraktisan penyajian, isi satu kemasan, mudah dibawa bepergian, dan kualitas yang lebih baik (meliputi aroma yang harum, efek kafein yang lebih ringan dan tidak meninggalkan ampas). Sesuai dengan perubahan atribut produk diharapkan bisa mengena di benak konsumen, terutama konsumen yang baru mengenal kopi, konsumen muda yang dinamis, dan konsumen yang menyukai kemudahan dalam melakukan sesuatu. Oleh karena itu dirasa perlu untuk mengevaluasi keberhasilan repositioning kopi Cap Singa melalui perubahan atribut produk di Surabaya.

Keyword : evaluation, repositioning, adjustment of product atribute

Sumber : http://repository.petra.ac.id/2729/

Formulasi strategi repositioning Chicco Swalayan dari Chicco Baby Shop menjadi pasar swalayan

Filed under: Uncategorized — Tags: , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : KOENTJORO;, NINA

Dewasa ini keberadaan pasar swalayan sangat menjamur dimana-mana bahkan sudah menjadi lifestyle bagi sebagian besar masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya. Dengan semakin majunya jaman maka tuntutan masyarakat terhadap pelayanan jasa meningkat. Karena itu setiap badan usaha terutama yang bergerak di bidang jasa perlu memperhatikan masalah ini, salah satu badan usaha jasa yang sedang berkembang saat ini adalah pasar swalayan. Pada saat ini di Surabaya telah banyak berdiri pasar swalayan. Chicco Swalayan merupakan salah satu pasar swalayan yang berlokasi di Raya Tenggilis dimana memberikan jaminan pelayanan (jasa). Positioning sangat penting bagi perusahaan, karena dengan melakukan strategi ini konsumen dapat membedakan kekuatan dan keunikan produk dibandingkan dengan produk pesaing. Dalam memposisikan produknya, suatu badan usaha harus mengidentifikasikan keunggulan bersaing yang dimilikinya sebagai dasar dalam merancang strategi positioning dan repositioning. Agar badan usaha tersebut mempunyai keunggulan bersaing, maka badan usaha tersebut harus dapat memberikan nilai lebih bagi target konsumen, dimana hal tersebut dapat dicapai melalui diferensiasi produk. Berdasarkan hasil analisis Porter?s five forces dapat disimpulkan bahwa ancaman masuk pendatang baru khususnya biaya beralih konsumen yang besar, kekuatan tawar menawar konsumen yang kuat, kekuatan tawar menawar pemasok. Dari hasil analisa Matrix GE strategi yang digunakan adalah strategi investasi untuk tumbuh yang meliputi : rebut kepemimpinan, tumbuh selektif, dan perkuat daerah yang rapuh. Dari hasil analisa SWOT diperoleh kesimpulan bahwa strategi yang perlu diterapkan adalah strategi agresif.

Keyword : positioning, repositioning, swot

Sumber : http://repository.petra.ac.id/4667/

Create a free website or blog at WordPress.com.