Kumpulan Skripsi & Artikel Jurnal Ilmiah

2009

Penggunaan metode elemen hingga pada saint venant’s semi inverse method dan membrane analogy pada perhitungan tegangan geser dan sudut deformasi pada batang bujursangkar akibat torsi

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : , RUDYANTO

Metode Elemen Hingga merupakan suatu prosedur numerik untuk menyelesaikan problem-problem yang dialami di dalam analisis keteknikan. Program komputer digunakan untuk menyelesaikan problem matematis secara cepat dan akurat. Batang bujursangkar memegang peranan yang cukup penting pada proses permesinan. Salah satu kegunaan batang bujursangkar adalah sebagai poros pada pegangan pintu dimana pada penggunaannya menerima beban berupa torsi sehingga menimbulkan tegangan geser dan sudut deformasi pada batang. Kesalahan dalam penghitungan tegangan geser dan sudut deformasi akan memberikan dampak kegagalan pada sistem permesinan. Program ini dibuat agar mampu melakukan perhitungan tegangan geser dan sudut deformasi sehingga dari hasil perhitungan tersebut didapatkan dimensi dan bahan batang bujursangkar yang paling cocok digunakan dalam suatu proses permesinan.

Keyword : finite element method, shear stress, deformation angle, square bar

Sumber : http://repository.petra.ac.id/848/

Stabilisasi tanah sirtu dengan PVAC dan co-acrylic

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : WICAKSONO;, GUNAWAN

Tujuan utama dari penelitian ini adalah memberikan alternatif lain yaitu meningkatkan daya dukung tanah sirtu dan mengubah sifat tanah sirtu dari non-kohesif menjadi kohesif, hal ini dilakukan dengan cara tanah sirtu dicampurkan dengan Co-Acrylic dan PVAC. Pencampuran obat dapat dengan 2 cara yaitu disemprot dan dicampur dengan tanah sirtunya. Dengan percobaan ini, dapat meningkatkan kerekatan antar partikel-partikel pada sirtu tersebut. Dari hasil penelitian didapat adanya peningkatan yaitu untuk campuran 5 %, dapat memikul tegangan geser sebesar 1,364 kg/cm 2 . Pada UCS test didapat hasil 35,605 kg/cm 2 untuk kuat tekannya. Dari hasil tersebut sirtu dapat mengalami peningkatan kekuatan tekan dan gesernya dan sifat yang non-kohesif menjadi kohesif.

Keyword : cohesif, non-cohesif, pulling force, shear stress, normal stress

Sumber : http://repository.petra.ac.id/1423/

Variasi sudut geser tanah akibat siklus drying wetting pada tanah pasir kelempungan

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : HENSA, RANTO

Perubahan cuaca dari hujan ke panas maupun sebaliknya mengakibatkan tanah pasir kelempungan menjadi tidak stabil karena mengalami kekeringan yang menyebabkan retak – retak (shrinkage) atau basah hingga mengakibatkan pengembangan (swelling) yang cukup besar. Apabila suatu gedung atau bangunan dibangun di atas tanah lempung yang tidak stabil tersebut, maka akan timbul masalah. Melalui percobaan pengeringan dan pembasahan dengan sampel disturbed di laboratorium, akan dapat dipelajari perilaku tegangan geser tanah dari berbagai macam kondisi tanah pasir kelempungan, untuk dapat mendekati perilaku tanah pasir kelempungan sesungguhnya di lapangan. Dari percobaan yang telah dilakukan, disimpulkan bahwa dalam kondisi drying tanah mengalami peningkatan tegangan geser yang lebih besar dibandingkan tanah dalam keadaan wetting. Dimana semakin besar kadar air (Wc) yang dikandung oleh tanah, tegangan geser tanah tersebut semakin kecil. Hal ini dapat dilihat dari besarnya nilai sudut geser (?) dari sample tanah yang dikeringkan lebih besar dibandingkan dengan nilai ? dari sample tanah yang dibasahi.

Keyword : soil, wetting, drying, clay sand, shear stress, angle of friction

Sumber : http://repository.petra.ac.id/4583/

Variasi tegangan geser tanah saat mengalami drying-wetting pada tanah pasir kelempungan kondisi inisial Kadara Air Optimum (OMC)

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : PRAMANA;, TEDDY

Perubahan cuaca dari hujan ke panas maupun sebaliknya mengakibatkan tanah pasir kelempungan menjadi tidak stabil karena mengalami kekeringanyang menyebabkan retak-retak (shrinkage) atau basah sehingga mengakibatkan pengembangan (swelling) yang cukup besar. Apabila suatu gedung atau bangunan dibangun di atas tanah lempung yang tidak stabil tersebut, maka akan timbul masalah. Melalui percobaan pengeringan dan pembasahan dengan sampel disturbed di laboratorium, akan dapat dipelajari perilaku tegangan geser tanah dari berbagai macam kondisi tanah pasir kelempungan, dimana tanah tersebut pada penelitian ini adalah biasa dipakai untuk embankment. Dari percobaan yang telah dilakukan, disimpulkan bahwa dalam kondisi drying tanah mengalami peningkatan tegangan geser yang lebih besar dibandigkan tanah dalam keadaan wetting. Dimana semakin besar kadar air (Wc) yang dikandung oleh tanah, tegangan geser tanah tersebut semakin kecil. Hal ini dapat dilihat dari besarnya nilai sudut geser (?) dari sampel tanah yang dikeringkan lebih besar dibandingkan dengan nilai ?dari sampel tanah yang dibasahi.

Keyword : wetting, drying, clay sand, shear stress, angel of friction, soil

Sumber : http://repository.petra.ac.id/4626/

Blog at WordPress.com.