Kumpulan Skripsi & Artikel Jurnal Ilmiah

2009

Variasi sudut geser tanah akibat siklus drying wetting pada tanah pasir kelempungan

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : HENSA, RANTO

Perubahan cuaca dari hujan ke panas maupun sebaliknya mengakibatkan tanah pasir kelempungan menjadi tidak stabil karena mengalami kekeringan yang menyebabkan retak – retak (shrinkage) atau basah hingga mengakibatkan pengembangan (swelling) yang cukup besar. Apabila suatu gedung atau bangunan dibangun di atas tanah lempung yang tidak stabil tersebut, maka akan timbul masalah. Melalui percobaan pengeringan dan pembasahan dengan sampel disturbed di laboratorium, akan dapat dipelajari perilaku tegangan geser tanah dari berbagai macam kondisi tanah pasir kelempungan, untuk dapat mendekati perilaku tanah pasir kelempungan sesungguhnya di lapangan. Dari percobaan yang telah dilakukan, disimpulkan bahwa dalam kondisi drying tanah mengalami peningkatan tegangan geser yang lebih besar dibandingkan tanah dalam keadaan wetting. Dimana semakin besar kadar air (Wc) yang dikandung oleh tanah, tegangan geser tanah tersebut semakin kecil. Hal ini dapat dilihat dari besarnya nilai sudut geser (?) dari sample tanah yang dikeringkan lebih besar dibandingkan dengan nilai ? dari sample tanah yang dibasahi.

Keyword : soil, wetting, drying, clay sand, shear stress, angle of friction

Sumber : http://repository.petra.ac.id/4583/

Stabilisasi tanah ekspansif menggunakan gypsum

Filed under: Uncategorized — Tags: , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : YUWONO, HARTANTO

Tanah ekspansif mengalami kembang susut yang besar, karena itu diperlukan stabilisasi untuk mencegahnya. Sebagai stabilisator dicoba menggunakan gypsum dari hasil samping pembuatan asam fospat PT. Petrokimia Gresik dengan komposisi 3% sampai 9%. Tanah yang digunakan pada percobaan kali ini diambil dari daerah Surabaya Barat, Pakuwon. Percobaan yang dilakukan meliputi Proctor Test, UC Test, CBR Test, Swelling Test. Dari hasil percobaan menunjukkan bahwa gypsum kurang efektif sebagai stabilisator tanah ekspansif.

Keyword : soil, ekspansif, gypsum stabilization

Sumber : http://repository.petra.ac.id/4744/

Konduktivitas tanah pasir kelempungan yang memiliki variasi derajat kejenuhan yang berbeda

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : HIENDARTO;, BENNY

Beberapa masalah dalam bidang rekayasa geoteknik banyak diakibatkan oleh perubahan volume dan kadar air akibat tegangan air pori negatif, yang mana masalah ini seringkali menjadi penyebar utama kerusakan pondasi rumah, pondasi jalan, keruntuhan lereng serta struktur tanah yang lain. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara daya serap airdengan tegangan air pori negatif akibat proses naik turunnya air tanah. Untuk mengetahui dan memperoleh hasil yang diharapkan, diperlukan suatu riset di laboratorium mekanika tanah, dalam hal ini ada 4 macam percobaan yang dilakukan pada penelitian ini yaitu : pengujian kepadatan relatif (Casagrande), pengujian pemadatan (Reduced Proctor), pengukuran tegangan air pori negatif (Suction) menggunakan kertas filter dan pengujian daya serap air (Permeability). Hasil percobaan menunjukkan bahwa daya serap air maksimum terjadi pada kadar air dibawah kondisi tanah inisial.

Keyword : casagrande, reduced proctor, suction, permeability, soil, sand

Sumber : http://repository.petra.ac.id/4594/

Penentuan pre-consolidation pressure untuk beberapa jenis tanah

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : SETIAWAN, FREDDY

Tekanan prakonsolidasi merupakan parameter yang penting, untuk mendapatkan informasi sejarah beban yang pernah di terima oleh lapisan tanah. Beberapa metode penentuan tekanan prakonsolidasi telah diusulkan oleh beberapa ahli. Penelitian ini membandingkan beberapa metode penentu tekanan prakonsolidasi beberapa macam tanah liat. Metode yang dipilih adalah Casagrande Method, Schmertmann Method, Janbu Method, Butterfield Method, Tavenas Method, Old Method, Van Zelst Method, dan New Method. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Butterfield Method, Tavenas Method, Casagrande Method dan New Method adalah metode-metode yang paling stabil dalam menentukan nilai % P c / P c yang ditentukan . Metode yang paling mendekati 100% dalam menentukan nilai % P c / P c yang ditentukan adalah metode Butterfield.

Keyword : soil, clay, fly ash, normal consolidation, preconsolidation pressure

Sumber : http://repository.petra.ac.id/4750/

Penggunaan single bulb dan double bulb sebagai pondasi dangkal pada tanah liat lunak

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : WICAKSANA;, CITRA

Bangunan yang didirikan di atas lapisan tanah liat lunak memiliki masalah daya dukung rendah dan penurunan yang besar. Pada umumnya, masalah ini diatasi dengan menggunakan pondasi dalam atau perbaikan tanah yang memerlukan banyak waktu dan biaya. Suatu alternatif yang diteliti pada penelitian ini adalah penggunaan preloaded bulb (single bulb dan double bulb) sebagai pondasi dangkal. Penelitian dilakukan di laboratorium dengan melakukan loading test pada model yang berada di atas tanah liat lunak. Rangka kayu dengan empat kolom diletakkan di atas empat preloaded bulb yang dibentuk dengan gaya tekan tertentu. Plat baja digunakan sebagai beban untuk loading test yang dilakukan hingga terjadi keruntuhan. Tanah liat yang digunakan sangat lunak hingga tidak dapat memikul berat sendiri rangka (14 kg). Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya dukung ultimate dari single bulb dan double bulb masing-masing adalah 225% dan 175% dari jumlah gaya tekan saat pembuatan bulb. Selain itu didapatkan pula bahwa pada beban kerja (50% dari gaya tekan pembentukan bulb), penurunan yang terjadi pada pondasi single bulb lebih besar dari penurunan yang terjadi pada pondasi double bulb.

Keyword : shallow foundations, single bulb, double bulb, ultimate capacity, settlement, soil, clay

Sumber : http://repository.petra.ac.id/4605/

Permasalahan pelaksanaan galian basement di Surabaya

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : LINNI, SHERFI;

Perkembangan bangunan bertingkat akhir?akhir ini seringkali menggunakan basement yang umumnya digunakan sebagai tempat parkir, tempat penyimpanan (gudang) dan mall. Kedalaman galian yang digunakan didalam pembuatan basement ini tergantung dari perencanaannya dan umumnya berkisar antara 2?8 meter. Pada negara-negara maju kedalaman basement ini bahkan dapat mencapai lebih dari 10 m. Pada pelaksanaannya, permasalahan yang sering terjadi adalah: kelongsoran akibat kestabilan tanah yang tidak tercapai, keamanan dari kondisi dari bangunan-bangunan di sekitar rencana galian dan metode dewatering yang digunakan. Pada Penelitian ini dilakukan pengelompokan tipe tanah di Surabaya berdasarkan penelitian terdahulu. Dari data-data tanah yang telah dikelompokkan, dicari kedalaman maksimum yang dapat dicapai melalui program PLAXIS. Analisa ini terdiri dari : open cut, cantilever dan anchored. Hasil analisa tersebut dibandingkan dengan analisa perhitungan secara manual. Selain itu hasil penelitian ini dilengkapi dengan wawancara.

Keyword : basement, plaxis, excavation, retaining wall, soil

Sumber : http://repository.petra.ac.id/4751/

Pengaruh pencampuran serat polypropilene terhadap kekuatan tanah liat

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : LUKITO;, ANDY

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh dari penambahan serat polypropylene terhadap kekuatan tanah liat dengan melihat pengaruh dari panjang serat, jumlah lapisan serat (layer), komposisi penambahan dan orientasi layer terhadap arah pengetesan. Hasil dari tes UCS menunjukkan bahwa sampel dengan penambahan fiber secara acak memberikan kekuatan yang terbesar. Penambahan fiber sebesar 3% memberikan pengaruh terhadap kekuatan tanah liat yang optimum. Pengaruh dari panjang fiber terhadap kekuatan tanah menunjukkan bahwa fiber dengan panjang 4,7 cm memberikan kekuatan yang lebih besar daripada fiber dengan panjang 1,4 cm. Berdasarkan orientasi layer terhadap arah pengetesan menunjukkan bahwa sampel dengan horisontal layer memiliki kekuatan yang lebih besar daripada sampel dengan vertikal layer. Dan juga menunjukkan bahwa sampel dengan dua layer fiber lebih kuat dibandingkan sampel dengan satu layer fiber. Hasil dari tes CBR menunjukkan bahwa sampel yang dibuat secara acak dengan penambahan 3% dan panjang fiber sebesar 1,4 cm memberikan nilai CBR yang terbesar. Penambahan persentase fiber dari 3% menjadi 5% tidak berpengaruh terhadap nilai CBR, bahkan mengurangi nilai CBR.

Keyword : soil, mechanics, polypropilene, clay

Sumber : http://repository.petra.ac.id/4607/

Korelasi nilai CBR tanah kelempengan dengan kokoh geser undrained

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : SOEGONDO, HENDRA

Perilaku material tanah urug dari tanah liat merupakan suatu permasalahan bagi para sarjana teknik sipil yang bekerja di bidang perencanaan jalan dan konstruksi. Sedikit saja peningkatan kadar air dari material tanah urug dapat menyebabkan kehilangan kekuatan geser yang besar. Ini membawa dampak yang serius pada pengaspalan jalan dimana kehilangan kekuatan ini mempengaruhi lapisan atas dari material subgrade. Berbagai percobaan proctor, CBR dan undrained shear strength dilakukan pada sampel-sampel tanah untuk mengetahui perilaku tanah urug dari tanah liat. Penelitian tentang penurunan kekuatan dari tanah urug seiring dengan peningkatan kadar air dilakukan. Angka korelasi antara nilai CBR dan kokoh geser undrained dicari.

Keyword : undrained shear, clay, soil, cbr

Sumber : http://repository.petra.ac.id/4608/

Studi penelitian tentang pengaruh campuran fiber dan kapur bubuk hidup pada tanah lempung

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : GOSAL;, FREDRECK

Serangkaian percobaan Unconfined Compression Test dan California Bearing Ratio Test dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh campuran kapur bubuk hidup dan fiber polypropylene pada tanah lempung. Campuran lempung dan kapur dipersiapkan dengan kandungan kapur 7% dari berat tanah kering, karena dari percobaan yang telah dilakukan sebelumnya kandungan kapur 7% adalah campuran yang paling efektif. Benda uji dicuring selama 7, 14, dan 28 hari. Fiber yang digunakan adalah jenis polypropylene dengan panjang 3.7 cm, dengan kandungan 3% dan 5% dari berat tanah kering. Dari hasil percobaan dapat diketahui bahwa penambahan kapur meningkatkan nilai qu, dan nilai CBR. Sedangkan penambahan fiber juga akan meningkatkan nilai qu dan nilai CBRnya. Dari hasil percobaan ini didapatkan bahwa campuran yang paling efektif didapat pada campuran tanah lempung dengan 7% kapur, dan 3% fiber, dimana nilai qu nya meningkat sebesar 1927,96%. Sedangkan nilai CBRnya menigkat 5862.37% untuk kedalaman 0.1″, dan 5237.63% untuk 0.2″.

Keyword : soil, testing, california bearing ratio, unconfined compression, clay

Sumber : http://repository.petra.ac.id/4620/

Pengaruh jumlah susunan preloaded bulp mortar terhadap daya dukung keseluruhan

Filed under: Uncategorized — Tags: , , — dvanhlast @ 7:31 am

Author : DJENDOKO;, DWI

Preloaded-bulb dapat digunakan untuk meningkatkan daya sukung pada tanah liat lunak. Dengan sistem dongkrak (jacking), sebuah preloaded-bulb dapat dibentuk dengan gaya tekan maksimum sebesar kapasitas gaya dongkrak yang digunakan. Penggunaan beberapa preloaded-bulb yang disusun secara vertikal dapat memberikan daya dukung yang jauh lebih besar daripada kapasitas dongkrak yang digunakan. Penggunaan sistem ini diharapkan menghasilakan suatu pondasi dengan daya dukung keseluruhan yang merupakan akumulasi dari daya dukung masing-masing bulb secara individu. dalam penelitian ini dilakukan pembuatan beberapa model susunan preloaded-bulb mortar di lapangan. Model pondasi yang diteliti terdiri dari satu bulb tunggal serta susunan bulb yang meliputi dua, tiga, empat, dan lima susun. Masing-masing bulb dibantuk dengan gaya tekan 1 ton. Kemudian tes pembebanan sampai hancur dilaksanakan pada tiap-tiap model pondasi tersebut. Hasil tes pembebanan secara umum menunjukkan bahwa daya dukun pondasi yang terbentuk dari susunan bulb minimum sama dengan kumulasi gaya tekan yang digunakan untuk membuat masing-masing bulb. Ada kecenderungan bahwa makin sedikit jumlah susunan bulb dalam suatu pondasi makin besar kenaikan daya dukungnya.

Keyword : soil, mechanic, soil testing

Older Posts »

Blog at WordPress.com.